TOPIK

Aidil Fitri (1) Air Kolah (9) Akhir Zaman (3) Aktiviti Ilmiah (1) Al-Quran (4) Alam (13) Alam Ghaib (5) Aldil Fitri (1) Allah wujud tanpa bertempat (15) Amal Soleh (3) Anti Hadis (1) Aqidah (17) ASWJ (63) Bab Munakahat (4) Bab Sihir (3) Bab Tauhid (9) Bahasa Melayu (6) Bahaya Syiah (7) Bertabarruk (2) Bid'ah (8) Bidaah Hasanah (7) Bulan Ramadhan (18) Bulan Rejab (1) Bulan Zulhijjah (1) Cintai DIA (1) Cuti-Cuti Malaysia (89) Doa (1) Dosa Besar (1) Ekonomi Islam (5) Fadilat Al-Quran (4) Fiqh (3) Futuhul Ghaib (1) Futuhul Makkiyyah (3) guru (2) Guru Mursyid (6) Guru Tariqat (6) Hadis Dhaif (6) Hadis Maudhu' (1) Hadis Nabi (14) Hakikat (1) Hari Kemudian (1) Hotel Islam (1) Hukum Berkaitan Zikir (9) Ibadat Haji (6) Ibnu Taimiyyah (16) ilmu kebatinan (5) Ilmu Laduni (1) ilmu persilatan (2) Imam Malik (1) Insan Kamil (1) Israk Mikraj (10) Istanbul (17) Isu Halal (2) Isu Kalimah Allah (4) Isu Khilaf (25) Isu Khilafiah (29) Isu Semasa (4) Isu Wahhabi (97) Jalan-Jalan (128) Jihad Ekonomi (34) Jom Makan (16) Karamah (2) kebenaran (5) Kesultanan Melayu (7) Kewangan dan Perbankan Islam (1) Khatamun Nubuwwah (2) Kisah Mualaf (28) Kisah Nabi (2) Koleksi (2) Kosong (2) Kurma (1) Lagu (1) Lailatul Qadar (14) Makam Sultan (5) Makam Sultan/Raja Melayu (7) Makam Wali Allah (43) Makhluk Halus (1) Makrifat (1) Masjid (41) Masjid Lama (24) Masjid Utama (29) Maulidur Rasul (23) Mekah (2) Melayu (14) Merdeka (1) Misteri (10) motivasi (1) Mukasyafah (2) Mutasyabihat (7) Nabi Ibrahim A.S. (1) Nabi Khidir A.S. (14) Nabi Musa A.S. (1) Neraka (1) Nisfu Syaaban (17) nostalgia (1) Nur Muhammad (6) Nuzul Quran (3) Pahlawan Islam (2) Pahlawan Melayu (10) Pelancongan Tanah Tinggi (4) pengumuman (7) Penyakit (1) Perubatan Islam (2) Perubatan tradisional (1) Petua (2) Puasa Ramadhan (18) Puasa Sunat (2) Pulau Besar (18) Putrajaya (3) Rabitah (1) Rahmat Allah (1) Rawatan Islam (1) rekreasi (21) Rezeki (1) RSAW (11) Rumahku Syurgaku (4) Sajak (6) Sedekah (1) Sejarah Melayu (6) Selawat (7) Senibina Islam (8) Sifat 20 (2) Solat (8) Solat Sunat (9) Sumpah (1) Sunnah RSAW (9) Tamadun Islam (8) Tariqat (7) Tasawuf (23) Tawassul (5) Tulisanku (311) Ulamak Islam (7) Ulamak Nusantara (20) Ulamak Tanah Melayu (16) Universiti (3) Usahawan Muslim (9) Usuluddin (1) Wahhabi dan Keganasan (9) Wali Allah (50) Wali Melayu (22) Wali Songo (10) Youtube (1) Zakat (13) Zakat Fitrah (4)
Memaparkan catatan dengan label Maulidur Rasul. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label Maulidur Rasul. Papar semua catatan

Ahad, 28 Mei 2017

DALIL MAULIDUR RASUL

Diantara dalil-dalil yang bisa kita jadikan sebagai dasar diperbolehkannya memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW adalah:

Firman Allah SWT:
ﻗُﻞْ ﺑِﻔَﻀْﻞِ ﺍﻟﻠّﻪِ ﻭَﺑِﺮَﺣْﻤَﺘِﻪِ ﻓَﺒِﺬَﻟِﻚَ ﻓَﻠْﻴَﻔْﺮَﺣُﻮﺍْ ﻫُﻮَ ﺧَﻴْﺮٌ ﻣِّﻤَّﺎ ﻳَﺠْﻤَﻌُﻮﻥَ

"Katakanlah: ‘Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan."(QS.Yunus:58).

Jadi, Allah SWT menyuruh kita untuk bergembira dengan rahmat-Nya, sedangkan Nabi SAW merupakan rahmat yang terbesar, sebagaimana tersebut dalam Al-Quran, "Dan tidaklah Kami mengutusmu melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam." (QS Al-Anbiya’: 107).

Dalam sebuah hadist disebutkan:

وذكر السهيلي أن العباس بن عبد المطلب رضي الله عنه قال : لما مات أبو لهب رأيته في منامي بعد حول في شر حال فقال ما لقيت
بعدكم راحة الا أن العذاب يخفف عني كل يوم اثنين قال وذلك أن النبي صلى الله عليه وسلم ولد يوم الإثنين وكانت ثويبة بشرت أبا
لهب بمولده فاعتقها
.As-Suhaeli telah menyebutkan” bahawa Abbas bin Abdul mutholibmelihat abu lahab dalam mimpinya,dan Abbas bertanya padanya,"Bagaimana keadaanmu? Abu lahab menjawab, di neraka, cuma setiap senin siksaku diringankan karena aku membebaskan budakku Tsuwaibah karena gembiraku atas kelahiran Rasul saw."(shahih bukhari hadits no.4813, sunan Baihaqi al-kubra hadits no.13701, syi’bul Iman no.281, fathul Baari al-Masyhur juz 11 hal431)

Peringatan Maulid Nabi SAW adalah ungkapan kegembiraan dan kesenangan dengan beliau. Bahkan orang kafir saja mendapatkan manfaat dengan kegembiraan itu (Ketika Tsuwaibah, budak perempuan Abu Lahab, paman Nabi, menyampaikan berita gembira tentang kelahiran sang Cahaya Alam Semesta itu, Abu Lahab pun memerdekakannya sebagai tanda suka cita. Dan karena kegembiraannya, kelak di alam baqa’ siksa atas dirinya diringankan setiap hari Senin tiba.

Demikianlah rahmat Allah terhadap siapa pun yang bergembira atas kelahiran Nabi, termasuk juga terhadap orang kafir sekalipun. Maka jika kepada seorang yang kafir pun Allah merahmati, karena kegembiraannya atas kelahiran sang Nabi, bagaimanakah kiranya anugerah Allah bagi umatnya, yang iman selalu ada di hatinya?

Beliau saw. sendiri mengagungkan hari kelahirannya dan bersyukur kepada Allah pada hari itu atas nikmatNya yang terbesar kepadanya.

Rasulullah SAW merayakan kelahiran dan penerimaan wahyunya dengan cara berpuasa setiap hari kelahirannya, yaitu setiap hari Senin Nabi SAW berpuasa untuk mensyukuri kelahiran dan awal penerimaan wahyunya.

ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲْ ﻗَﺘَﺎﺩَﺓَ ﺍﻷَﻧْﺼَﺎﺭِﻱِّ ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻨْﻪُ: ﺃَﻥَّ ﺭَﺳُﻮْﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺳُﺌِﻞَ ﻋَﻦْ ﺻَﻮْﻡِ ﺍﻟْﺈِﺛْﻨَﻴْﻦِ ﻓَﻘَﺎﻝَ” :ﻓِﻴْﻪِ ﻭُﻟِﺪْﺕُ ﻭَﻓِﻴْﻪِ ﺃُﻧْﺰِﻝَ ﻋَﻠَﻲَّ
(ﺭﻭﺍﻩ ﻣﺴﻠﻢ)

Dari Abi Qotadah al-Anshori RA sesungguhnya Rasulullah SAW pernah ditanya mengenai puasa hari senin. Rasulullah SAW menjawab: Pada hari itu aku dilahirkan dan wahyu diturunkan kepadaku.(H.R. Muslim).

Firman Allah :
وَكُلًّا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ
"Dan semua kisah dari rasul-rasul kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya kami teguhkan hatimu.." (QS.Hud :120)

Dari ayat ini nyatalah bahwa hikmah dikisahkannya para rasul adalah untuk meneguhkan hati Nabi. Tidak diragukan lagi bahwa saat ini kita pun butuh untuk meneguhkan hati kita dengan berita-berita tentang beliau, lebih dari kebutuhan beliau akan kisah para nabi sebelumnya

Peringatan Maulid Nabi SAW mendorong orang untuk membaca shalawat, dan shalawat itu diperintahkan oleh Allah Ta’ala, Allah SWT berfirman:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat atas Nabi. Wahai orang-orang yang beriman,bershalawatlah kalian untuknya dan ucapkanlah salam sejahtera kepadanya." (QS Al-Ahzab: 56).

Apa saja yang mendorong orang untuk melakukan sesuatu yang dituntut oleh syara’, berarti hal itu juga dituntut oleh syara’. Berapa banyak manfaat dan anugerah yang diperoleh dengan membacakan salam kepadanya5. Peringatan Maulid Nabi masuk dalam anjuran hadits nabi untuk membuat sesuatu yang baru yang baik dan tidak menyalahi syari ‘at Islam. Rasulullah bersabda:َ

ﻣَﻦْ ﺳَﻦَّ ﻓﻲِ ﺍْﻹِﺳْـﻼَﻡِ ﺳُﻨَّﺔً ﺣَﺴَﻨـَﺔً ﻓَﻠَﻪُ ﺃَﺟْﺮُﻫَﺎ ﻭَﺃَﺟْﺮُ ﻣَﻦْ ﻋَﻤِﻞَ ﺑِﻬَﺎ ﺑَﻌْﺪَﻩُ ﻣِﻦْ ﻏَﻴْﺮِ ﺃَﻥْ ﻳَﻨْﻘُﺺَ ﻣِﻦْ ﺃُﺟُﻮْﺭِﻫِﻢْ ﺷَﻰْﺀٌ

"Barang siapa yang memulai (merintis) dalam Islam sebua perkara baik maka ia akan mendapatkan pahala dari perbuatan baiknya tersebut, dan ia juga


mendapatkan pahala dari orang yang mengikutinya setelahnya, tanpa berkurang pahala mereka sedikitpun." (HR.Muslim dalam kitab Shahihnya).

Hadits ini memberikan keleluasaan kepada ulama ummat Nabi Muhammad untuk merintis perkara-perkara baru yang baik yang tidak bertentangan dengan al-Qur ‘an, Sunnah, Atsar maupun Ijma’.

Peringatan maulid Nabi adalah perkara baru yang baik dan sama sekali tidak menyalahi satu- pun di antara dalil-dalil tersebut. Dengan demikian berarti hukumnya boleh, bahkan salah satu jalan untuk mendapatkan pahala. Jika ada orang yang mengharamkan peringatan Maulid Nabi, berarti telah mempersempit keleluasaan yang telah Allah berikan kepada hamba-Nya untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik yang belum pernah ada pada masa Nabi.

Dalam peringatan Maulid disebut tentang kelahiran beliau, mukjizat-mukjizatnya, sirahnya, dan pengenalan tentang pribadi beliau. Bukankah kita diperintahkan untuk mengenalnya serta dituntut untuk meneladaninya, mengikuti perbuatannya, dan mengimani mukjizatnya.

Kitab-kitab Maulid menyampaikan semuanya dengan lengkap.Peringatan Maulid merupakan ungkapan membalas jasa beliau dengan menunaikan sebagian kewajiban kita kepada beliau dengan menjelaskan sifat-sifatnya yang sempurna dan akhlaqnya yang utama.

Dulu, di masa Nabi, para penyair datang kepada beliau melantunkan qashidah-qashidah yang memujinya. Nabi ridha (senang) dengan apa yang mereka lakukan dan memberikan balasan kepada mereka dengan kebaikan-kebaikan. Jika beliau ridha dengan orang yang memujinya, bagaimana beliau tidak ridha dengan orang yang mengumpulkan keterangan tentang perangai-perangai beliau yang mulia. Hal itu juga mendekatkan diri kita kepada beliau, yakni dengan manarik kecintaannya dan keridhaannya.

Mengenal perangai beliau, mukjizat-mukjizatnya, dan irhash-nya (kejadian-kejadian luar biasa yang Allah berikan pada diri seorang rasul sebelum diangkat menjadi rasul), menimbulkan iman yang sempurna kepadanya dan menambah kecintaan terhadapnya.

Manusia itu diciptakan menyukai hal-hal yang indah, balk fisik (tubuh) maupun akhlaq, ilmu maupun amal, keadaan maupun keyakinan. Dalam hal ini tidak ada yang lebih indah, lebih sempurna, dan lebih utama dibandingkan akhlaq dan perangai Nabi. Menambah kecintaan dan menyempurnakan iman adalah dua hal yang dituntut oleh syara’. Maka, apa saja yang memunculkannya juga merupakan tuntutan agama.

Mengagungkan Nabi SAW itu disyariatkan. Dan bahagia dengan hari kelahiran beliau dengan menampakkan kegembiraan, membuat jamuan, berkumpul untuk mengingat beliau, serta memuliakan orang-orang fakir, adalah tampilan pengagungan, kegembiraan, dan rasa syukur yang paling nyata.

Dalam ucapan Nabi SAW tentang keutamaan hari Jum’at, disebutkan bahwa salah satu di antaranya adalah, "Pada hari itu Adam diciptakan." Hal itu menunjukkan dimuliakannya waktu ketika seorang nabi dilahirkan. Maka bagaimana dengan hari di lahirkannya nabi yang paling utama dan rasul yang paling mulia?

Peringatan Maulid adalah perkara yang dipandang bagus oleh para ulama dan kaum muslimin di semua negeri dan telah dilakukan di semua tempat. Karena itu, ia dituntut oleh syara’, berdasarkan qaidah yang diambil dari hadits yang diriwayatkan Abdullah bin Mas’ud, "Apa yang dipandang balk oleh kaum muslimin, ia pun balk di sisi Allah; dan apa yang dipandang buruk oleh kaum muslimin, ia pun buruk di sisi Allah."

Dalam peringatan Maulid tercakup berkumpulnya umat, dzikir, sedekah, dan pengagungan kepada Nabi SAW. Semua itu hal-hal yang dituntut oleh syara’ dan terpuji. Tidak semua yang tidak pernah dilakukan para salaf dan tidak ada di awal Islam berarti bid’ah yang munkar dan buruk, yang haram untuk dilakukan dan wajib untuk ditentang. Melainkan apa yang "baru" itu (yang belum pernah dilakukan) harus dinilai berdasarkan dalii-dalil syara’.

Tidak semua bid’ah itu diharamkan. Jika haram, niscaya haramlah pengumpulan Al-Quran, yang dilakukan Abu Bakar, Umar, dan Zaid, dan penulisannya di mushaf-mushaf karena khawatir hilang dengan wafatnya para sahabat yang hafal Al-Quran. Haram pula apa yang dilakukan Umar ketika mengumpulkan orang untuk mengikuti seorang imam ketika melakukan shalat Tarawih, padahal ia mengatakan, "Sebaik-baik bid’ah adalah ini." Banyak lagi perbuatan baik yang sangat dibutuhkan umat akan dikatakan bid’ah yang haram apabila semua bid’ah itu diharamkan.

Peringatan Maulid Nabi, meskipun tidak ada di zaman Rasulullah SAW, sehingga merupakan bid’ah, adalah bid’ah hasanah (bid’ah yang baik), karena ia tercakup di dalam dalil-dalil syara’ dan kaidah-kaidah kulliyyah (yang bersifat global).

Jadi, peringatan Maulid itu bid’ah jika kita hanya memandang bentuknya, bukan perinaan-perinaan amalan yang terdapat di dalamnya (sebagaimana terdapat dalam dalil kedua belas), karena amalan-amalan itu juga ada di masa Nabi.Semua yang tidak ada pada awal masa Islam dalam bentuknya tetapi perincian-perincian amalnya ada, juga dituntut oleh syara’. Karena, apa yang tersusun dari hal-hal yang berasal dari syara’, pun dituntut oleh syara’.

Imam Asy-Syafi’i mengatakan, "Apa-apa yang baru (yang belum ada atau dilakukan di masa Nabi SAW) dan bertentangan dengan Kitabullah, sunnah, ijmak, atau sumber lain yang dijadikan pegangan, adalah bid’ah yang sesat. Adapun suatu kebaikan yang baru dan tidak bertentangan dengan yang tersebut itu, adalah terpuji.

Setiap kebaikan yang tercakup dalam dalil-dalil syar’i dan tidak dimaksudkan untuk menyalahi syariat dan tidak pula mengandung suatu kemunkaran itu termasuk ajaran agama.

Memperingati Maulid Nabi SAW berarti menghidupkan ingatan (kenangan) tentang Rasulullah, dan itu menurut kita disyariatkan dalam Islam. Sebagaimana yang kita lihat sebagian besar amaliah haji pun menghidupkan ingatan tentang peristiwa-peristiwa terpuji yang telah lalu.

Semua dalil-dalil yang disebutkan sebelumnya tentang dibolehkannya secara syariat peringatan Maulid Nabi SAW hanyalah pada peringatan-peringatan yang tidak disertai perbuatan-perbuatan munkar yang tercela, yang wajib ditentang. Adapun jika peringatan Maulid mengandung hal-hal yang disertai sesuatu yang wajib diingkari, seperti bercampurnya laki-laki dan perempuan, dilakukannya perbuatanperbuatan yang terlarang, dan banyaknya pemborosan dan perbuatan-perbuatan lain yang tidak diridhai Shahibul Maulid, tak diragukan lagi bahwa itu diharamkan. Tetapi keharamannya itu bukan pada peringatan Maulidnya itu sendiri, melainkan pada hal-hal yang terlarang tersebut

Rabu, 25 Januari 2017

MAULIDUR RASUL


Sebenarnya saya dah malas nak melayan perangai golongan yang suka membid'ah sesatkan amalan ummat Islam dengan alasan perbuatan tersebut tidak dilakukan oleh RasuululLaah S.A.W. kerana sikap mereka mengharamkan perbuatan2 yang tidak dilakukan oleh RasuululLaah S.A.W. semata-mata ianya tidak dilakukan oleh RasuululLaah sebenarnya merupakan bid'ah yang sesat di dalam agama kerana mereka cipta sesuatu yang tidak ada asas di dalam agama malah bertentangan dengan Al-Quran dan As-Sunnah itu sendiri dan termasuk di dalam perbuatan keji mengharamkan sesuatu yang tidak haram di dalam agama.

Apapun, oleh kerana ada sahabat2 yang bertanya berkaitan poster recycled ini dan "logik kedai kopi" yang tidak bersandarkan kaedah fiqhiyyah sebenar ini dicampur aduk dengan penyelewengan fakta yang dikitar semula saban tahun, maka saya copy paste perbualan saya dengan seorang pengikut Wahhabi di dalam sebuah Group Telegram mungkin sekitar 2 tahun yang lalu ketika saya masih aktif melayan perbincangan2 di dalam Group Telegram. Moga2 ada manfaatnya kepada mereka yang Allah SWT bukakan hati mereka untuk mencari kebenaran 👇

SOALAN WAHHABI: Abu lahab ko sapo  org hok mula2 smbut maulud nabi?
Bg pnjlasan ckit shabat2

JAWAPAN SAYA: Kalau Abu Lahab sambut mawlid Nabi Muhammad SAW pun apa masalahnya? Adakah kerana sesuatu perbuatan yang baik dilakukan oleh orang2 kafir, maka perbuatan itu jadi buruk? Kalau ada orang-orang kafir yang hormat kepada ibubapa, membantu orang-orang miskin, maka perbuatan itu jadi buruk. Wahhabi yang galak membid'ah dholaalah kan sambutan mawlid Nabi Muhammad SAW seakan terlupa puasa 10 Muharram asalnya amalan orang-orang Yahudi tetapi oleh kerana baik mengikut kayu ukur syarak (menzahirkan kesyukuran atas keselamatan Nabi Allah Musa a.s. daripada ancaman Firaun)  maka diiktiraf, dianjurkan dan diamalkan oleh RasuululLaah SAW. Mereka juga lupa antara orang yang paling awal menyambut mawlid adalah RasuululLaah SAW sendiri yang menyambut hari kelahiran baginda setiap minggu dan mereka lupa dan buat muka tak malu menyambut mawlid insan bernama Muhammad bin Abdul Wahhab pengasas gerakan Wahhabi, tetapi apabila yang disambut mawlid itu namanya Muhammad bin Abdullah SallalLaahu 'alaihi wa sallam maka jadi bid'ah dholaalah masuk neraka. Wahhabi bukan sahaja ada masalah dari segi ilmu, hatta kalau ada ilmu sekalipun racun Wahhabi yang menyerap di dalam hati dan fikiran mereka mematikan kebolehan mereka untuk berfikir secara adil dan konsisten.

نسأل الله العفو والعافية

SOALAN WAHHABI: Sabar syeikh
Kt kan brbncang.
Mana sumber enta amik yg kata rasulullah smbut maulidnya stiap mnggu?
Bg hujah syeikh...jgn ckap sj hehe

JAWAPAN SAYA: Sabar dan marah ada tempatnya. Kita disuruh marah kalau agama dirosakkan oleh juhala berlagak pandai. Lagipun,  memang masih cool 😎 aje, cuma bagi point2 moga2 dengannya Allah bukakan hati dan fikiran mereka yang masih di peringkat mencari hak dan kebenaran

SOALAN WAHHABI: Mana hujjah yg ana mnta? Enta org alim bg la ...sy geng2 juhalak

JAWAPAN SAYA: Hujjah apa lagi? Menzahirkan kesyukuran atas kelahiran insan yang menjadi rahmat kepada sekelian alam yang turut dilakukan oleh yang empunya diri yang perkataan dan perbuatan, malah diamnya boleh menjadi sandaran hukum, masih mahu tanya hujjah? Hrrmm...

SOALAN WAHHABI: Mana sumber enta amik yg kata rasulullah smbut maulidnya stiap mnggu?
Sbut hads atau ayat al quran
Itu hujjah namanya...takkan org alim cam enta pon x tau

JAWAPAN SAYA:

كنا مع النبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم إذ أتى على رجلٍ فقالوا : ما أفطَر مُذْ كذا وكذا , فقال : لا صام ، ولا أفطَر ، أو ما صام وما أفطَر , شكَّ غيلانُ , فلما رأى عُمرُ غضَب رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم ، قال : يا رسولَ اللهِ صومُ يومَينِ وإفطارُ يومٍ ؟ قال : ويطيقُذاك أحدٌ ؟ قال : قلتُ : يا رسولَ اللهِ ، صومُ يومٍ وإفطارُ يومٍ ؟ قال : ذاكَ صومُ أخي داودَ عليه السلامُ , قال : يا رسولَ اللهِ صومُ يومٍ وإفطارُ يومَينِ ؟ قال : ومَن يطيقُ ذاكَ , قال : يا رسولَ اللهِ صومُ يومِ الاثنَينِ ؟ قال : ذاكَ يومٌ وُلِدتُ فيه وأُنزِلَ عليَّ فيه النبوةُ

RESPON WAHHABI: Ini br btul ...ada hujjah👍

RESPON SAYA:👆hujjah bagi orang-orang yang Allah SWT masih belum tutupkan mata hatinya dengan ketaksuban terhadap kecenderungan Wahhabi yang suka membid'ah dholaalah kan amalan2 ummat Islam yang mempunyai dalil dan sandaran seolah2 kefahaman mereka sahaja yang betul tidak boleh tersalah

* KEMUDIAN WAHHABI DIAM LAMA, MUNGKIN GOOGLE MAKNA HADITH YANG DIBERIKAN. SETELAH LAMA MEMBISU, WAHHABI MASIH BELUM BERPUAS HATI, DAPAT IDEA UNTUK MEMPERPANJANGKAN PERTIKAIAN, LALU BERTANYA:

Nabi gembira dengan hari kelahirannya pada hari Isnin...maka baginda pun berpuasa atas menunjukkan kegembiraan tersebut...maka hujahnya Baginda saw menyambutnya setiap minggu
sambutan stahum skali mana hujahnya?

JAWAPAN SAYA: Tak jumpa hujjah, bukan bermakna tiada hujjah, carilah, mengajilah, kembangkan lah kefahaman, jangan disempitkan apa yang Allah SWT perluaskan.

SOALAN WAHHABI: sambutan stahum skali mana hujahnya?

RESPON SAYA:👆dah agak soalan nih

SOALAN WAHHABI: Mana syeikh? Gtau la

JAWAPAN SAYA: Ijmak
Ijmak ulama tidak wajib berpuasa setiap Isnin

RESPON WAHHABI: Nak bramal mst ada hujah syeikh

RESPON SEORANG AHLI GROUP: dah bg hujah rasulullah sambut sendiri x nk terima
Perangai wahabi memang ego..

SOALAN WAHHABI: Smua kita mngakui puasa sunat hr isnin
Tp yg stahun skali manaaaa?

JAWAPAN SAYA:

العبرة بعموم اللفظ، لا بخصوص السبب

Mengambil hukum adalah daripada keumuman lafaz, bukan dengan kekhususan sebab

Itu kaedah...
Yang pasti daripada hadis, jelas boleh menzahirkan kesyukuran atas kelahiran RasuululLaah SAW. Adakah mesti setiap minggu? Adakah mesti dengan cara berpuasa? Ijmak ulama bahawa kedua2 itu tidak wajib. Maka ummat bebas menzahirkan kesyukuran mereka dengan apa2 cara yang mereka mampu selagi mana tidak melanggar batas2 syarak. Berselawat, menjemput Ustaz2 memberi tausiah dan tazkirah, menjamu makan semuanya masih termasuk di dalam perkara2 yang dianjurkan oleh Islam. Wahhabi yang suka menyempitkan apa yang Islam perluaskan. Kasihan...

SOALAN WAHHABI: Siapakah orang yang pertama menyambut maulid Nabi???

JAWAPAN SESEORANG: Sambutan peringatan Maulid Nabi pertama kali dilakukan oleh Raja Irbil (wilayah Iraq sekarang), bernama Muzhaffaruddin al-Kaukabri.

Sejak bilakah sambutan maulidur rasul ini diadakan?

Ia dimulakan oleh Sultan Muzhaffaruddin pada awal abad ke 7 hijriyah.

Ibn Katsir dalam kitab Tarikh berkata:

“Sultan Muzhaffar mengadakan peringatan maulid Nabi pada bulan Rabi’ul Awwal. Beliau merayakannya secara besar-besaran. Beliau adalah seorang yang berani, pahlawan,` alim dan seorang yang adil -semoga Allah merahmatinya-”.

Dijelaskan oleh Sibth (cucu) Ibn al-Jauzi bahawa, dalam peringatan tersebut, Sultan al-Muzhaffar mengundang seluruh rakyatnya dan seluruh para ulama’ dari berbagai disiplin ilmu, baik ulama’ dalam bidang ilmu fiqh, ulama’ hadits, ulama’ dalam bidang ilmu kalam, ulama’ usul, para ahli tasawwuf dan lainnya untuk meraikannya.

Selama tiga hari, sebelum hari pelaksanaan mawlid Nabi, beliau telah melakukan berbagai persiapan. Ribuan kambing dan unta disembelih untuk hidangan para hadirin yang akan hadir dalam perayaan Maulid Nabi tersebut.

Segenap para ulama’ saat itu membenarkan dan menyetujui apa yang dilakukan oleh Sultan al-Muzhaffar tersebut. Mereka semua menganggap baik perayaan maulid Nabi yang dibuat untuk pertama kalinya itu.

Ibn Khallikan dalam kitab Wafayat al-A`yan menceritakan bahawa al-Imam al-Hafizh Ibn Dihyah datang dari Moroco menuju Syam dan seterusnya ke menuju Iraq, ketika melintasi daerah Irbil pada tahun 604 Hijrah, beliau mendapati Sultan al-Muzhaffar, raja Irbil tersebut sangat besar perhatiannya terhadap perayaan Maulid Nabi. Oleh kerana itu, al-Hafzih Ibn Dihyah kemudian menulis sebuah buku tentang Maulid Nabi yang diberi judul “al-Tanwir Fi Maulid al-Basyir an-Nadzir”. Karya ini kemudian beliau hadiahkan kepada Sultan al-Muzhaffar.

Para ulama’, semenjak zaman Sultan al-Muzhaffar dan zaman selepasnya hingga sampai sekarang ini menganggap bahawa perayaan maulid Nabi adalah sesuatu yang baik.

Para ulama terkemuka dan Huffazh al-Hadits telah menyatakan demikian. Di antara mereka seperti ;

al-Hafizh Ibn Dihyah (abad 7 H)al-Hafizh al-’Iraqi (W. 806 H)Al-Hafizh Ibn Hajar al-`Asqalani (W. 852 H)al-Hafizh as-Suyuthi (W. 911 H)al-Hafizh aL-Sakhawi (W. 902 H)SyeIkh Ibn Hajar al-Haitami (W. 974 H)al-Imam al-Nawawi (W. 676 H)al-Imam al-`Izz ibn `Abd al-Salam (W. 660 H)mantan mufti Mesir iaitu Syeikh Muhammad Bakhit al-Muthi’i (W. 1354 H)Mantan Mufti Beirut Lubnan iaitu Syeikh Mushthafa Naja (W. 1351 H)

dan terdapat banyak lagi para ulama’ besar yang lainnya.

Bahkan al-Imam al-Suyuthi menulis karya khusus tentang maulid yang berjudul “Husn al-Maqsid Fi ‘Amal al-Maulid”. Karena itu perayaan maulid Nabi, yang biasa dirayakan di bulan Rabi’ul Awwal menjadi tradisi ummat Islam di seluruh dunia, dari masa ke masa dan dalam setiap generasi ke generasi.

RESPON SAYA: Dalil dan istidlaal pun tak tahu beza tapi galak nak menghukum orang-orang lain sesat dan bid'ah. Semoga Allah SWT lindungi kita dan zuriat kita daripada kebebalan dan kedegilan menerima kebenaran
Mana pula dalil haram menzahirkan kesyukuran atas kelahiran RasuululLaah SAW setahun sekali? Kalau tak mampu bersyukur setiap detik, sekurang2nya setahun sekali, takkan jadi haram masuk neraka?

SOALAN WAHHABI: Sapa kata haram?

TERANG SAYA: Dalil ada yang qhatie dan ada yang zhonni, kedua-duanya diterima di dalam skop masing2

TANYA SESEORANG: Knp anta nk dalil qati,'?

JAWAB WAHHABI: Utk dijadikn hujah dlm bribadah

JAWAPAN SAYA: Wahhabi suka pusing2 cakap. Kalau tak haram sambut mawlid tahunan selesai masalah, tak perlu lah ikut fatwa Ibn Uthaimin yang mengharamkan sambutan mawlid Nabi tetapi menghalalkan mawlid Muhammad bin Abdul Wahhab
Hujjah dalam beribadah tak perlu dalil qathie

SOALAN WAHHABI: Hangpa dok asyik wahabi dr td...knal ke sapa wahabi tu

RESPON SAYA KEPADA JAWAPAN WAHHABI SEBELUM ITU: Ini namanya jahil dua lapis. Kalau jahil selapis senang pi belajar. Sejak bila pula dalam ibadah mesti dalil qhatie?
Qathie dari segi thubut dan dalaalah, begitu juga zhonni

JAWAPAN SAYA KEPADA SOALAN KLISE BUAT2 TAK TAHU WAHHABI: Wahhabi tu dalam bahasa Arab ditulis وهابي. Apa fungsi huruf ي dihujung perkataan Wahhabi? Kalau yang itu pun tak faham, no wonder selalu keluar ayat "Jangan tuduh orang Wahhabi bla bla". Sedangkan tak ada pengikut imam Syafie atau Imam Ahmad rahimahumalLaah yang melenting atau sensitif bila dipanggil Syafie atau Hanbali. Kasihan yang ikut pola fikir dan pegangan Muhammad bin Abdul Wahhab tetapi menuduh orang2 lain tidak berakhlak semata-mata kerana memanggil dia Wahhabi (pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab) sungguh kasihan...
Salam

Surah Al-Furqan, Ayat 63:

وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

- TAK MAHU HABISKAN MASA MELAYAN WAHHABI YANG BUKAN INGIN MENCARI KEBENARAN -

HALIM HASAN MENYAMAKAN PERARAKAN SAMBUTAN MAULIDUR RASUL DENGAN PERARAKAN TAIPUSAM


*HALIM HASAN MENYAMAKAN PERARAKAN SAMBUTAN MAULIDUR RASUL DENGAN PERARAKAN TAIPUSAM*


Perarakan sempena sambutan Maulid Rasul yang dilakukan oleh umat Islam adalah suatu perkara yang tidak bercanggah dengan syarak. Bahkan ia adalah perkara yang sangat baik bertujuan menzahirkan kegembiran dan kesukaan di atas kelahiran junjungan besar Nabi kita Muhammad  ﷺ disamping mereka mendendangkan qasidah-qasidah memuji baginda Nabi serta zikir demi mensyukuri nikmat Allah mengutuskan baginda Nabi Muhammad  ﷺ kepada manusia.

Antara dalil yang mengharuskan umat Islam melakukan perarakan sempena Maulid Nabi ini adalah sebagaimana berikut :

Setelah keislaman ^Umar ibn al-Khattab di Darul-Arqam, para sahabat Nabi keluar dan mereka berjalan-jalan beramai-ramai dalam 2 barisan. Tujuan mereka adalah ingin bersyukur di atas kenikmatan yang diberikan oleh Allah ta^ala kepada mereka iaitu nikmat Allah taala telah memberikan hidayah atau petunjuk kepada Sayyidina ^Umar _radiyallahu ^anhu_. Ini antara dalil-dalil yang menunjukkan keharusan berarak dan berjalan beramai-ramai dengan melaungkan zikir, tahlil dan sebagainya demi menzahirkan kegembiraan atas kenikmatan yang telah berlaku sebagai syukur kepada Allah ta^ala atas nikmat tersebut. Antara yang meriwayatkan bahawa  umat Islam keluar beramai- ramai dalam 2 barisan setelah keislaman Sayyidina Umar adalah al-Hafiz Abu Nu^aim al Asfahani dalam kitabnya Hilyah al-Awliya, Percetakan Darul Kitab al-^Arabi, Beirut-Lubnan, jil 1 hlm. 40.

Al-^Allamah Datuk Sayyid ^Alawi ibn Thahir al-Haddad, merupakan Mufti Negeri Johor (1356 - 1381 H/ 1936 - 1961 R) dalam _Fatwa-Fatwa Mufti Kerajaan Johor_ (jil.2, hlm. 343) ketika beliau ditanya berhubung hukum umat Islam yang berarak pada sambutan Maulidur-Rasul, jawab beliau:

_*“Tidak mengapa jika tidak ada perkara mungkar”*._ Intaha.

Oleh itu, dakwaan Halim Hasan bahawa _perarakan Maulid tidak ada beza dengan perarakan Thaipusam seperti adik dan abang_ itu adalah tuduhan yang melampau yang wajib diwaspadai oleh masyarakat keseluruhannya.

[Perkara ini dinyatakan di laman sesawang youtube, di bawah tajuk _*“Ustaz Halim Hassan - Perarakan maulid tiada beza dengan Thaipusam”*_]

Sedangkan Rasulullah ﷺ bersabda:

*يَا أَيُّهَا النَّاسُ وَإِيَاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّينِ، فَإِنَّهُ أهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمُ الغُلُوُّ فِي الدِّينِ*

Mafhumnya: _“Wahai manusia, awasilah kamu dari sifat melampau dalam agama, sesungguhnya telah hancur binasa golongan sebelum kamu berpunca daripada sikap melampaui batasan dalam urusan agama”._

(Diriwayatkan oleh Ahmad dalam _Musnad Ahmad_, al-Nasai'i dalam _Sunan al-Nasa'i_ dan Ibn Majah dalam _Sunan Ibn Majah_ serta al-Hakim dalam _al-Mustadrak_ daripada Ibn ^Abbas _radiyallahu ^anhuma_)

Dalam satu hadis yang diriwayatkan oleh Ibn Mas^ud _radiyallahu ^anhu_ bahawa Nabi ﷺ pernah bersabda:

*هَلَكَ الْمُتَنَطِّعُون*

Mafhumnya: _“Telah binasa golongan yang melampau”._ (Diriwayatkan oleh Muslim)

والله أعلم وأحكم

✒Disediakan oleh:
*Kajian Ilmiah Ahlis-Sunnah (KIAS)*

21 DALIL KEHARUSAN MENYAMBUT SAMBUTAN MAULIDURRASUL

21 DALIL KEHARUSAN MENYAMBUT SAMBUTAN MAULIDURRASUL
Yang pertama merayakan Maulid Nabi SAW adalah Sohibul Maulid sendiri, iaitu Nabi SAW, sebagaimana yang disebutkan dalam hadis sohih yang diriwayatkan Muslim bahawa, ketika ditanya mengapa berpuasa di hari Isnin, Baginda menjawab, “Itu adalah hari kelahiranku.” Ini nas yang paling nyata yang menunjukkan bahawa memperingati Maulid Nabi adalah sesuatu yang dibolehkan syara’.
Banyak dalil yang boleh kita jadikan sebagai dasar untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.
PERTAMA, peringatan Maulid Nabi SAW adalah ungkapan kegembiraan dan kesenangan dengan beliau. Bahkan orang kafir saja mendapatkan manfaat dengan kegembiraan itu (Ketika Tsuwaibah, budak perempuan Abu Lahab, bapa saudara Nabi, menyampaikan berita gembira tentang kelahiran sang Cahaya Alam Semesta itu, Abu Lahab pun memerdekakannya. Sebagai tanda suka cita. Dan kerana kegembiraannya, kelak di alam baqa’ siksa atas dirinya diringankan setiap hari Isnin tiba. Demikianlah rahmat Allah terhadap siapa pun yang bergembira atas kelahiran Nabi, termasuk juga terhadap orang kafir sekalipun. Maka jika kepada seorang yang kafir pun Allah merahmati, kerana kegembiraannya atas kelahiran sang Nabi, bagaimanakah kiranya anugerah Allah bagi umatnya, yang iman selalu ada di hatinya?
KEDUA, Baginda sendiri mengagungkan hari kelahirannya dan bersyukur kepada Allah pada hari itu atas nikmat-Nya yang terbesar kepadanya.
KETIGA, gembira dengan Rasulullah SAW adalah perintah Al-Quran. Allah SWT berfirman, “Katakanlah, ‘Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira’.” (QS Yunus: 58).
Jadi, Allah SWT menyuruh kita untuk bergembira dengan rahmat-Nya, sedangkan Nabi SAW merupakan rahmat yang terbesar, sebagaimana tersebut dalam Al-Quran, “Dan tidaklah Kami mengutusmu melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam.” (QS Al-Anbiya’: 107).
KEEMPAT, Nabi SAW memperhatikan kaitan antara waktu dan kejadian-kejadian keagamaan yang besar yang telah lepas. Apabila datang waktu ketika peristiwa itu terjadi, itu merupakan kesempatan untuk mengingatnya dan mengagungkan harinya.
KELIMA, peringatan Maulid Nabi SAW mendorong orang untuk membaca selawat, dan selawat itu diperintahkan oleh Allah Ta’ala, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, berselawatlah kalian untuknya dan ucapkanlah salam sejahtera kepadanya.” (QS Al-Ahzab: 56).
Apa saja yang mendorong orang untuk melakukan sesuatu yang dituntut oleh syara’, bererti hal itu juga dituntut oleh syara’. Berapa banyak manfaat dan anugerah yang diperoleh dengan membacakan salam kepadanya.
KEENAM, dalam peringatan Maulid disebut tentang kelahiran beliau, mukjizat-mukjizatnya, sirahnya, dan pengenalan tentang peribadi beliau. Bukankah kita diperintahkan untuk mengenalnya serta dituntut untuk meneladaninya, mengikuti perbuatannya, dan mengimani mukjizatnya. Kitab-kitab Maulid menyampaikan semuanya dengan lengkap.
KETUJUH, peringatan Maulid merupakan ungkapan membalas jasa beliau dengan menunaikan sebahagian kewajiban kita kepada beliau dengan menjelaskan sifat-sifatnya yang sempurna dan akhlaqnya yang utama.
Dulu, di masa Nabi, para penyair datang kepada beliau melantunkan qasidah-qasidah yang memujinya. Nabi redha (senang) dengan apa yang mereka lakukan dan memberikan balasan kepada mereka dengan kebaikan-kebaikan. Jika beliau redha dengan orang yang memujinya, bagaimana beliau tidak redha dengan orang yang mengumpulkan keterangan tentang perangai-perangai beliau yang mulia. Hal itu juga mendekatkan diri kita kepada beliau, iaitu dengan menarik kecintaannya dan keredhaannya
KELAPAN, mengenal perangai beliau, mukjizat-mukjizatnya, dan irhas-nya (kejadian-kejadian luar biasa yang Allah berikan pada diri seorang rasul sebelum diangkat menjadi rasul), menimbulkan iman yang sempurna kepadanya dan menambah kecintaan terhadapnya.
Manusia itu diciptakan menyukai hal-hal yang indah, baik fizik (tubuh) mahupun akhlak, ilmu mahupun amal, keadaan mahupun keyakinan. Dalam hal ini tidak ada yang lebih indah, lebih sempurna, dan lebih utama dibandingkan akhlak dan perangai Nabi. Menambah kecintaan dan menyempurnakan iman adalah dua hal yang dituntut oleh syara’. Maka, apa saja yang memunculkannya juga merupakan tuntutan agama.
KESEMBILAN, mengagungkan Nabi SAW itu disyariatkan. Dan bahagia dengan hari kelahiran beliau dengan menampakkan kegembiraan, membuat jamuan, berkumpul untuk pengingat beliau, serta memuliakan orang-orang fakir, adalah tampilan pengagungan, kegembiraan, dan rasa syukur yang paling nyata.
KESEPULUH, dalam ucapan Nabi SAW tentang keutamaan hari Jumaat, disebutkan bahawa salah satu di antaranya adalah, “Pada hari itu Adam diciptakan.” Hal itu menunjukkan dimuliakan-nya waktu ketika seorang nabi dilahirkan. Maka bagaimana dengan hari dilahirkannya nabi yang paling utama dan rasul yang paling mulia?
KESEBELAS, peringatan Maulid adalah perkara yang dipandang bagus oleh para ulama dan kaum muslimin di semua negeri dan telah dilakukan di semua tempat. Karena itu, ia dituntut oleh syara’, berdasarkan kaedah yang diambil dari hadis yang diriwayatkan Abdullah bin Mas’ud, “Apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin, ia pun baik di sisi Allah; dan apa yang dipandang buruk oleh kaum muslimin, ia pun buruk di sisi Allah.”
KEDUA BELAS, dalam peringatan Maulid tercakup berkumpulnya umat, zikir, sedekah, dan pengagungan kepada Nabi SAW. Semua itu hal-hal yang dituntut oleh syara’ dan terpuji.
KETIGA BELAS, Allah SWT berfirman, “Dan semua kisah dari rasul-rasul, Kami ceritakan kepadamu, yang dengannya Kami teguhkan hatimu.” (QS Hud: 120). Dari ayat ini nyatalah bahawa hikmah dikisahkannya para rasul adalah untuk meneguhkan hati Nabi. Tidak diragukan lagi bahwa saat ini kita pun perlu untuk meneguhkan hati kita dengan berita-berita tentang beliau, lebih dari keperluan Baginda akan kisah para nabi sebelumnya.
KEEMPAT BELAS, tidak semua yang tidak pernah dilakukan para salaf dan tidak ada di awal Islam berarti bid’ah yang munkar dan buruk, yang haram untuk dilakukan dan wajib untuk ditentang. Melainkan apa yang “baru” itu (yang belum pernah dilakukan) harus dinilai berdasarkan dalil-dalil syara’.
KELIMA BELAS, tidak semua bid’ah itu diharamkan. Jika haram, nescaya haramlah pengumpulan Al-Quran, yang dilakukan Abu Bakar, Umar, dan Zaid, dan penulisannya di mushaf-mushaf kerana khuatir hilang dengan wafatnya para sahabat yang hafal Al-Quran. Haram pula apa yang dilakukan Umar ketika mengumpulkan orang untuk mengikuti seorang imam ketika melakukan solat Tarawih, padahal ia mengatakan, “Sebaik-baik bid’ah adalah ini.” Banyak lagi perbuatan baik yang sangat diperlukan umat akan dikatakan bid’ah yang haram apabila semua bid’ah itu diharamkan.
KEENAM BELAS, peringatan Maulid Nabi, meskipun tidak ada di zaman Rasulullah SAW, sehingga merupakan bid’ah, adalah bid’ah hasanah (bid’ah yang baik), kerana ia tercakup di dalam dalil-dalil syara’ dan kaedah-kaedah kulliyyah (yang bersifat global).
Jadi, peringatan Maulid itu bid’ah jika kita hanya memandang bentuknya, bukan perincian-perincian amalan yang terdapat di dalamnya (sebagaimana terdapat dalam dalil kedua belas), kerana amalan-amalan itu juga ada di masa Nabi.
KETUJUH BELAS, semua yang tidak ada pada awal masa Islam dalam bentuknya tetapi perincian-perincinan amalnya ada, juga dituntut oleh syara’. Kerana apa yang tersusun dari hal-hal yang berasal dari syara’, pun dituntut oleh syara’.
KELAPAN BELAS, Imam Asy-Syafi’i mengatakan, “Apa-apa yang baru (yang belum ada atau dilakukan di masa Nabi SAW) dan bertentangan dengan Kitabullah, sunnah, ijmak, atau sumber lain yang dijadikan pegangan, adalah bid’ah yang sesat. Adapun suatu kebaikan yang baru dan tidak bertentangan dengan yang tersebut itu, adalah terpuji.”
KESEMBILAN BELAS, setiap kebaikan yang tercakup dalam dalil-dalil syar’i dan tidak dimaksudkan untuk menyalahi syariat dan tidak pula mengandung suatu kemungkaran, itu termasuk ajaran agama.
KEDUA PULUH, memperingati Maulid Nabi SAW bererti menghidupkan ingatan (kenangan) tentang Rasulullah, dan itu menurut kita disyariatkan dalam Islam. Sebagaimana yang Anda lihat, sebahagian besar amaliah haji pun menghidupkan ingatan tentang peristiwa-peristiwa terpuji yang telah lalu.
KEDUA PULUH SATU, semua yang disebutkan sebelumnya tentang dibolehkannya secara syariat peringatan Maulid Nabi SAW hanyalah pada peringatan-peringatan yang tidak disertai perbuatan-perbuatan mungkar yang tercela, yang wajib ditentang.
Adapun jika peringatan Maulid mengandung hal-hal yang disertai sesuatu yang wajib diingkari, seperti bercampurnya laki-laki dan perempuan, dilakukannya perbuatan-perbuatan yang terlarang, dan banyaknya pemborosan dan perbuatan-perbuatan lain yang tak diredhai shahthul Maulid, tak diragukan lagi bahawa itu diharamkan. Tetapi keharamannya itu bukan pada peringatan Maulidnya itu sendiri, melainkan pada hal-hal yang terlarang tersebut.
Diambil dari kitab Sayyid Prof. Dr. Muhammad ibn Sayyid ‘Alawi ibn Sayyid ‘Abbas ibn Sayyid ‘Abdul ‘Aziz al-Maliki al-Hasani al-Makki (1365 H -1425 H)

Ahad, 16 Oktober 2016

Mahallul Qiyam di dalam acara Maulid Nabi, bolehkah??


Mahallul Qiyam di dalam acara Maulid Nabi, bolehkah??

Saat pembacaan Maulid / marhabanan seringkali kita lihat jamaah berdiri sambil melanjutkan bacaan Maulid atau kisah hidup rasulullah saw. Ini disebut dengan istilah: Mahallul Qiyam. Yaitu berdiri bersama-sama untuk menyambut kehadiran Rasulullah SAW didalam hati sanubari. Mahallul Qiyam merupakan ekspresi spontanitas sebagai wujud penghormatan atas kehadiran Rasulullah SAW di dalam kalbu setiap muslim yang tulus.
Adapun kehadiran beliau didalam Majlis, kita sebagai muslim tidak meyakini nya secara pasti, meskipun para ulama dan riwayat ada yg mengatakan kehadiran arwah kaum muslimin apalagi orang-orang shaleh sangat dimungkinkan. Lebih-lebih lagi arwah para nabi dan rasul datang kepada umatnya.

Imam Malik rahimahullahu Ta’ala pernah berkata :

بَلَغَنِيْ أَنَّ الرُّوْحَ مُرْسَلَةٌ تَذْهَبُ حَيْثُ شَاءَتْ { العقيدة
لوامع الأنوار البهية وسواطع الأسرار الأثرية
محمد السفاريني الحنبلي
المكتب الأسلامي- دار الخاني
سنة النشر: 1411هـ / 1991م
رقم الطبعة: ---
عدد الأجزاء: جزء واحد}

Artinya: Telah sampai kepadaku berita bahwa arwah dapat pergi kemana dia kehendaki

Salman al-Farisi radhiyallahu ‘anhu pula berkata:

أَرْوَاحُ المُؤْمِنِيْنَ فِيْ بَرْزَخٍ مِنَ الأَرْضِ تَذْهَبُ حَيْثُ شَاءَتْ

Artinya: Roh-roh orang mukmin di alam barzakh, pergi ke mana dikehendaki. (Sebagaimana tersebut didalam kitab ar-Ruh oleh Ibn Qayyim, halaman144)

Belakangan ini marak sekali sebagian kalangan bertanya bertanya bahkan cenderung mempermasalahkan kalau berdiri saat bacaan Maulid nabi SAW itu merupakan perbuatan tercela.
Padahal kalau kita mau mencermati Hadits-hadits Nabi atau Kitab-kitab karya ulama Salafus-Shalih berdiri dalam hal ini merupakan penghormatan yang dianjurkan.

Berikut saya paparkan dalil-dalinya:

1. Berdiri kepada orang yg kita hormati adalah syariat agama yg dianjurkan begitu juga hal nya berdiri ketika merasakan kehadiran Rasulullah dlm hati kita. Nabi Muhammad SAW bersabda,
عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الْخُذْرِيّ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلْأَنْصَارِ: قُوْمُوْا إلَى سَيِّدِكُمْ أوْ خَيْرِكُمْ. رواه مسلم

Dari Abi Said Al-Khudri, beliau berkata, Rasulullah SAW bersabda kepda para sahabat Ansor,” Berdirilah kalian untuk tuan kalian atau orang yang paling baik di antara kalian.” (HR Muslim).

2. Mahallul Qiyam merupakan pengagungan Kepada Rasulullah saw.

فائدة: جرت العادة أن الناس إذا سمعوا ذكر وضعه يقومون تعظيما له وهذا القيام مستحسن لما فيه من تعظيم النبي وقد فعل ذلك كثير من علماء الأمة الذين يقتدى بهم اه

[ FAEDAH ] Telah menjadi kebiasaan saat orang-orang mendengar disebutkan kelahiran(Maulid) Nabi Muhammad, mereka berdiri untuk memberikan penghormatan, berdiri semacam ini dianggap bagus/istihsan karena didalamnya mengandung pengagungan terhadap Nabi, dan yang demikian telah dikerjakan oleh mayoritas Ulama yang pantas untuk diikuti. [ Syekh Abu Bakar Muhammad Syathaa ad-Dimyaathi “ I’aanah at-Thoolibiin III/363 ].

3. Mahallul Qiyam Merupakan Bid’ah Hasanah

ومن الفوائد انه جرت عادة كثير من الناس اذا سمعوا بذكر وضعه صلى الله عليه وسلم أن يقوموا تعظيما له صلى الله عليه وسلم وهذا القيام بدعة لا أصل لها : أي لكن هي بدعة حسنة , لانه ليس كل بدعة مذمومة . وقد قال سيدنا عمر رضي الله تعالى عنه في اجتماع الناس لصلاة التراويح : نعمت البدعة
 .

Al-‘Allaamah Burhanuddin Al-Halaby berkata “Termasuk faedah-faedah yang biasa terjadi dikebanyakan masyarakat adalah saat mereka mendengar disebutkan kelahiran Nabi Muhammad shallallaahu alaihi wasallam, mereka berdiri untuk memberikan penghormatan, Sesungguhnya berdiri semacam ini termasuk bidah yang tidak ada asalnya namun ia tergolong bidah yang baik/Hasanah  karena tidak setiap bidah itu tercela, adalah sayyidina Umar ra berkata saat mengumpulkan orang-orang untuk melaksanakan shalat taraweh “Sebaik-baiknya bid’ah adalah yang ini(shalat tarawih dengan berjamaah)”, dan yang demikian telah dikerjakan oleh mayoritas Ulama yang pantas untuk diikuti. [ As-Sirah al-Halabiyyah I/136 ].

4. Bahkan Sunnah hasanah:

"جرت العادة بأنه إذا ساق الوعاظ مولده صلى الله عليه وسلم وذكروا وضع أمه له قام الناس عند ذلك تعظيما له صلى الله عليه وسلم وهذا القيام بدعة حسنة لما فيه من إظهار السرور والتعظيم له صلى الله عليه وسلم بل مستحبة لم غلب عليه الحب والإجلال لهذا النبي الكريم عليه أفضل الصلاة وأتم التسليم
.

Berkata al-Allaamah an-Nabhaany “Telah menjadi kebiasaan saat para penasehat menghaturkan bacaan Maulid Nabi kala tiba pada kalimah وضع أمه له (Beliau dilahirkan oleh ibunya), orang-orang berdiri untuk memberikan penghormatan, berdiri semacam ini bid’ah hasanah karena menampakkan kebahagiaan dan pengagungan pada Nabi bahkan dapat tergolong sunnah saat dilakukan dengan penuh rasa suka cita dan pengagungan pada Nabi”. [ Jawaahir al-Bihaar III/383 ].kunjungi website kami:[http://www.scc-kepri.com/]

Sabtu, 27 Ogos 2016

BAHAN-BAHAN ASWJ

*Alhamdulillah, Sila muat turun pdf Ahlus Sunnah Wal Jama'ah secara PERCUMA menjawab Wahhabi dan Syiah*. (Y)

*AL BAYAN - terbitan Sekretariat Menangani Isu-isu Akidah dan Syariah Majlis Agama Islam Johor. Menjawab persoalan Aqidah, syariat dan akhlaq*.

1. *Maulidul Rasul*
http://mufti.johor.gov.my/images/uploads/dokumen/terbitan/albayan_1_maulidurrasul_.pdf

2. *Talqin dan 100 Kitab Menolak Wahhabi*
http://mufti.johor.gov.my/images/uploads/dokumen/terbitan/albayan_2_talqin_dan_100_kitab.pdf

3. *Doa Qunut, Zikir dan Wirid*

http://mufti.johor.gov.my/images/uploads/dokumen/terbitan/al-bayan_3_qunut_zikir_dan_wirid_bidah.pdf

4. *Amalan Sunnah Mengiringi Solat Fardhu*
http://mufti.johor.gov.my/images/uploads/dokumen/terbitan/albayan_4_amalan_sunnah_.pdf

5. *(Kenduri Arwah, Menziarahi Maqam Nabi, Menggerakkan Jari Ketika Tahiyyat*
http://mufti.johor.gov.my/images/uploads/dokumen/terbitan/albayan_5_kenduri.pdf

6. *Menjawab Persoalan Tawassul*
http://mufti.johor.gov.my/images/uploads/dokumen/terbitan/albayan_6_tawassul.pdf

7. *Tareqat dan Tasawwuf*
http://mufti.johor.gov.my/images/uploads/dokumen/terbitan/albayan_7_tariqah_dan_tasawwuf.pdf

8. *Barzanji*
http://mufti.johor.gov.my/images/uploads/dokumen/terbitan/albayan_8_berzanji_2009.pdf

9. (Menjawab Persoalan Bid'ah*
http://mufti.johor.gov.my/images/uploads/dokumen/terbitan/albayan_9_bidah.pdf

10. *Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah*
http://mufti.johor.gov.my/images/uploads/dokumen/terbitan/albayan_18_akidah_ahli_sunnah_ok.pdf

11. *Kepentingan Mazhab*
http://mufti.johor.gov.my/images/uploads/dokumen/terbitan/albayan_14_mazhab.pdf

12. *Bahaya Islam Liberal*
http://mufti.johor.gov.my/images/uploads/dokumen/terbitan/albayan_21_bahaya_Islam_libral_adli_712.pdf

13. *Kebatilan Aqidah Syiah*
http://mufti.johor.gov.my/images/uploads/dokumen/terbitan/kebatilan_akidah_syiah_22_.pdf

14. *Kebatilan Aqidah Syiah 2*
http://mufti.johor.gov.my/images/uploads/dokumen/terbitan/akidah_syiah_2_23_.pdf

Sumber : http://mufti.johor.gov.my/terbitan/al-bayan

*SILA MUAT TURUN DAN SEBAR-SEBARKAN* !.

*WAHHABI/SYIAH/LIBERAL MENYERANG, KITA MENJAWAB DENGAN TERANG SUPAYA KEBATILAN TERPADAM*.