TOPIK

Aidil Fitri (1) Air Kolah (9) Akhir Zaman (3) Aktiviti Ilmiah (3) Al-Quran (4) Alam (13) Alam Ghaib (5) Aldil Fitri (1) Allah wujud tanpa bertempat (15) Amal Soleh (3) Anti Hadis (1) Aqidah (15) ASWJ (62) Bab Munakahat (4) Bab Sihir (4) Bab Tauhid (7) Bahasa Melayu (6) Bahaya Syiah (7) Bertabarruk (2) Bid'ah (8) Bidaah Hasanah (7) Bulan Ramadhan (18) Bulan Rejab (1) Bulan Zulhijjah (1) Cintai DIA (1) Cuti-Cuti Malaysia (89) Doa (1) Dosa Besar (1) Ekonomi Islam (5) Fadilat Al-Quran (4) Fiqh (2) Futuhul Ghaib (1) Futuhul Makkiyyah (3) guru (2) Guru Mursyid (6) Guru Tariqat (6) Hadis Dhaif (6) Hadis Maudhu' (1) Hadis Nabi (14) Hakikat (1) Hari Kemudian (1) Hotel Islam (1) Hukum Berkaitan Zikir (9) Ibadat Haji (6) Ibnu Taimiyyah (16) ilmu kebatinan (5) Ilmu Laduni (1) ilmu persilatan (2) Imam Malik (1) Insan Kamil (1) Israk Mikraj (10) Istanbul (20) Isu Halal (2) Isu Kalimah Allah (4) Isu Khilaf (25) Isu Khilafiah (27) Isu Semasa (4) Isu Wahhabi (97) Jalan-Jalan (129) Jihad Ekonomi (37) Jom Makan (16) Karamah (2) kebenaran (5) Kesultanan Melayu (7) Kewangan dan Perbankan Islam (1) Khatamun Nubuwwah (2) Kisah Mualaf (28) Kisah Nabi (2) Koleksi (2) Kosong (2) Kurma (1) Lagu (1) Lailatul Qadar (14) Makam Sultan (7) Makam Sultan/Raja Melayu (8) Makam Wali Allah (45) Makhluk Halus (1) Makrifat (1) Masjid (47) Masjid Lama (25) Masjid Utama (34) Maulidur Rasul (23) Mekah (2) Melayu (14) Merdeka (1) Misteri (11) motivasi (1) Mukasyafah (2) Mutasyabihat (7) Nabi Ibrahim A.S. (1) Nabi Khidir A.S. (14) Nabi Musa A.S. (1) Neraka (1) Nisfu Syaaban (17) nostalgia (1) Nur Muhammad (6) Nuzul Quran (3) Pahlawan Islam (3) Pahlawan Melayu (10) Pelancongan Tanah Tinggi (4) Peluang Perniagaan (1) pengumuman (7) Penyakit (1) Perubatan Islam (2) Perubatan tradisional (1) Petua (1) Puasa Ramadhan (18) Puasa Sunat (2) Pulau Besar (18) Putrajaya (3) Rabitah (1) Rahmat Allah (1) Rawatan Islam (1) rekreasi (21) Rezeki (1) RSAW (11) Rumahku Syurgaku (4) Sajak (6) Sedekah (1) Sejarah Melayu (6) Selawat (7) Senibina Islam (8) Sifat 20 (2) Solat (8) Solat Sunat (9) Sumpah (1) Sunnah RSAW (9) Tamadun Islam (8) Tariqat (7) Tasawuf (24) Tawassul (5) Tulisanku (331) Ulamak Islam (7) Ulamak Nusantara (20) Ulamak Tanah Melayu (16) Universiti (5) Usahawan Muslim (9) Usuluddin (1) wahdatul wujud (2) Wahhabi dan Keganasan (9) Wali Allah (52) Wali Melayu (24) Wali Songo (10) Youtube (1) Zakat (13) Zakat Fitrah (4)

Isnin, 23 April 2012

Dalil Lengkap Sunnahnya mencium tangan ulama dan orang shaleh

sumber : http://salafytobat.wordpress.com/2012/04/10/dalil-lengkap-sunnahnya-mencium-tangan-ulama-dan-orang-shaleh/



Dalil Lengkap Sunnahnya mencium tangan ulama dan orang shaleh

Belakangan kelompok yang mengaku membawa jargon “basmi TBC” semakin menyebar di masyarakat kita. Mereka tidak sadar, sebenarnya meraka sendiri yang terkena “TBC”. Label mereka “Salafiyyah”, padahal sebenarnya mereka “Talafiyyah” (kaum perusak). Di antara masalah yang mereka pandang sebagai bid’ah sesat, bahkan sebagian mereka menyebutnya sebagai perbuatan syirik, adalah masalah “cium tangan”. Tanpa alasan yang jelas mereka mengatakan bahwa mencium tangan seseorang adalah perbuatan bid’ah, bahkan mendekati syirik. A’udzu Billah.
Perlu diketahui bahwa mencium tangan orang yang saleh, penguasa yang bertakwa dan orang kaya yang saleh adalah perkara mustahabb (sunnah) yang disukai Allah. Hal ini berdasarkan hadits-hadits Rasulullah dan dan atsar para sahabat berikut ini. Di antaranya;
  1. Hadits riwayat al-Imam at-Tirmidzi dan lainnya, bahwa ada dua orang Yahudi sepakat menghadap Rasulullah. Salah seorang dari mereka berkata: “Mari kita pergi menghadap -orang yang mengaku- Nabi ini untuk menanyainya tentang sembilan ayat yang Allah turunkan kepada Nabi Musa”. Tujuan kedua orang Yahudi ini adalah hendak mencari kelemahan Rasulullah, karena beliau adalah seorang yang Ummi (tidak membaca dan tidak menulis). Mereka menganggap bahwa Rasulullah tidak mengetahui tentang sembilan ayat tersebut. Ketika mereka sampai di hadapan Rasulullah dan menanyakan prihal sembilan ayat yang diturunkan kepada Nabi Musa tersebut, maka Rasulullah menjelaskan kepada keduanya secara rinci tidak kurang suatu apapun. Kedua orang Yahudi ini sangat terkejut dan terkagum-kagum dengan penjelasan Rasulullah. Keduanya orang Yahudi ini kemudian langsung mencium kedua tangan Rasulullah dan kakinya. Al-Imam at-Tarmidzi berkata bahwa kulitas hadits ini Hasan Shahih (Lihat Jami’ at-Tirmidzi, Kitab al-Isti’dzan, Bab Ma Ja’a Fi Qublah al-Yad Wa ar-Rijl).
  2. Abu asy-Syaikh dan Ibn Mardawaih meriwayatkan dari sahabat Ka’ab ibn Malik, bahwa ia berkata:
    “Ketika turun ayat tentang (diterimanya) taubat-ku, aku mendatangi Rasulullah lalu mencium kedua tangan dan kedua lututnya” ( Lihat ad-Durr al-Mantsur, j. 4, h. 314).
  3. Al-Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam kitabnya al-Adab al-Mufrad bahwa sahabat ‘Ali ibn Abi Thalib telah mencium tangan al-‘Abbas ibn ‘Abd al-Muththalib dan kedua kakinya, padahal ‘Ali lebih tinggi derajatnya dari pada al-‘Abbas. Namun karena al-‘Abbas adalah pamannya sendiri dan seorang yang saleh maka dia mencium tangan dan kedua kakinya tersebut (Lihat al-Adab al-Mufrad, h. 328).
  4. Demikian juga dengan ‘Abdullah ibn ‘Abbas, salah seorang dari kalangan sahabat yang masih muda ketika Rasulullah meninggal. ‘Abdullah ibn ‘Abbas pergi kepada sebagian sahabat Rasulullah lainnya untuk menuntut ilmu dari mereka. Suatu ketika beliau pergi kepada Zaid ibn Tsabit, salah seorang sahabat senior yang paling banyak menulis wahyu. Saat itu Zaid ibn Tsabit sedang keluar dari rumahnya. Melihat itu, dengan cepat ‘Abdullah ibn ‘Abbas memegang tempat pijakan kaki dari pelana hewan tunggangan Zaid ibn Tsabit. ‘Abdullah ibn ‘Abbas menyongsong Zaid untuk menaiki hewan tunggangannya tersebut. Namun tiba-tiba Zaid ibn Tsabit mencium tangan ‘Abdullah ibn ‘Abbas, karena dia adalah keluarga Rasulullah. Zaid ibn Tsabit berkata: “Seperti inilah kami memperlakukan keluarga Rasulullah”. Padahal Zaid ibn Tsabit jauh lebih tua dari ‘Abdullah ibn ‘Abbas. Atsar ini diriwayatkan oleh al-Hafizh Abu Bakar ibn al-Muqri dalam Juz Taqbil al-Yad.
  5. Ibn Sa’d juga meriwayatkan dengan sanad-nya dalam kitab Thabaqat dari ‘Abd ar-Rahman ibn Zaid al-‘Iraqi, bahwa ia berkata: “Kami telah mendatangi Salamah ibn al-Akwa’ di ar-Rabdzah. Lalu ia mengeluarkan tangannya yang besar seperti sepatu kaki unta, kemudian dia berkata: “Dengan tanganku ini aku telah membaiat Rasulullah”. Oleh karenanya lalu kami meraih tangan beliau dan menciumnya” (Lihat Thabaqat Ibn Sa’d, j. 4, h. 229).
  6. Juga telah diriwayatkan dengan sanad yang shahih bahwa al-Imam Muslim mencium tangan al-Imam al-Bukhari. Al-Imam Muslim berkata kepadanya:وَلَوْ أَذِنْتَ لِيْ لَقَبَّلْتُ رِجْلَكَ.“Seandainya anda mengizinkan pasti aku cium kaki anda” (Lihat at-Taqyid Li Ma’rifah as-Sunan Wa al-Masanid, h. 33).
  7. Dalam kitab at-Talkhish al-Habir, al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalani menuliskan sebagai berikut:“Tentang masalah mencium tangan ada banyak hadits yang dikumpulkan oleh Abu Bakar ibn al-Muqri, beliau mengumpulkannya dalam satu juz penuh. Di antaranya hadits ‘Abdullah ibn ‘Umar, dalam menceritakan suatu peristiwa di masa Rasulullah, beliau berkata:فَدَنَوْنَا مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَبَّلْنَا يَدَهُ وَرِجْلَهُ (رواه أبو داود)
    “Maka kami mendekat kepada Rasulullah lalu kami cium tangan dan kakinya”. (HR. Abu Dawud)
    Di antaranya juga hadits Shafwan ibn ‘Assal, dia berkata: “Ada seorang Yahudi berkata kepada temannya: Mari kita pergi kepada Nabi ini (Muhammad). Kisah lengkapnya seperti tertulis di atas. Kemudian dalam lanjutan hadits ini disebutkan:
    فَقَبَّلاَ يَدَهُ وَرِجْلَهُ وَقَالاَ: نَشْـهَدُ أَنَّكَ نَبِيٌّ.
    “Maka keduanya mencium tangan Nabi dan kakinya lalu berkata: Kami bersaksi bahwa engkau seorang Nabi”.
    Hadits ini diriwayatkan oleh Para Penulis Kitab-kitab Sunan (al-Imam at-Tirmidzi, al-Imam an-Nasa’i, al-Imam Ibn Majah, dan al-Imam Abu Dawud) dengan sanad yang kuat.
  8. Juga hadits az-Zari’, bahwa ia termasuk rombongan utusan ‘Abd al-Qais, bahwa ia berkata:فَجَعَلْنَا نَتَبَادَرُ مِنْ رَوَاحِلِنَا فَنُقَبِّلُ يَدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.“Maka kami bergegas turun dari kendaraan kami lalu kami mencium tangan Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam”. (HR. Abu Dawud)
  9. Dalam hadits tentang peristiwa al-Ifk (tersebarnya kabar dusta bahwa as-Sayyidah ‘Aisyah berbuat zina) dari ‘Aisyah, bahwa ia berkata: “Abu Bakar berkata kepadaku:قُوْمِيْ فَقَبِّلِيْ رَأْسَهُ.“Berdirilah dan cium kepalanya (Rasulullah)”. (HR. Ath-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir, j. 23, h. 108-114).
  10. Dalam kitab sunan yang tiga (Sunan Abu Dawud, at-Tirmidzi dan an-Nasa-i) dari ‘Aisyah, bahwa ia berkata:مَا رَأَيْتُ أَحَدًا كَانَ أَشْبَهَ سُمْتًا وَهَدْيَا وَدَلاًّ بِرَسُوْلِ اللهِ مِنْ فَاطِمَةَ، وَكَانَ إِذَا دَخَلَتْ عَلَيْهِ قَامَ إِلَيْهَا فَأَخَذَ بِيَدِهَا فَقَبَّلَهَا وَأَجْلَسَهَا فِيْ مَجْلِسِهِ، وَكَانَتْ إِذَا دَخَلَ عَلَيْهَا قَامَتْ إِلَيْهِ فَأَخَذَتْ بِيَدِهِ فَقَبَّلَتْهُ، وَأَجْلَسَتْهُ فِيْ مَجْلِسِهَا.“Aku tidak pernah melihat seorangpun lebih mirip dengan Rasulullah dari Fathimah dalam sifatnya, cara hidup dan gerak-geriknya. Ketika Fathimah datang kepada Rasulullah, maka Rasulullah berdiri menyambutnya lalu mengambil tangan Fathimah, kemudian Rasulullah mencium Fathimah dan membawanya duduk di tempat duduk beliau. Dan apabila Rasulullah datang kepada Fathimah, maka Fathimah berdiri menyambutnya lalu mengambil tangan Rasulullah, kemudian mencium Rasulullah, setelah itu ia mempersilahkan beliau duduk di tempatnya”.
    Demikian penjelasan al-Hafizh Ibn Hajar dalam kitab at-Talkhish al-Habir.
    Dalam hadits yang terakhir disebutkan, juga terdapat dalil tentang kebolehan berdiri untuk menyambut orang yang masuk datang ke suatu tempat, jika memang bertujuan untuk menghormati bukan untuk menyombongkan diri dan menampakkan keangkuhan.

Selasa, 17 April 2012

Zakat barang perhiasan



Zakat barang perhiasan

SAYA amat suka mengumpul barang kemas, sama ada diperbuat daripada emas mahupun intan dan berlian. Soalan saya, apakah yang dimaksudkan dengan barang-barang kemas atau perhiasan itu?


Adakah semua barang yang dijadikan perhiasan perlu dizakatkan? Adakah harta perhiasan selain emas dan perak, seperti intan, berlian, mutiara dan sebagainya, wajib ditaksirkan nilainya dan dikeluarkan zakat ke atasnya?


Jawapan

Terima kasih kerana mengajukan pertanyaan. Mudah-mudahan Allah SWT mempermudahkan urusan puan dan memberkati niat dan usaha puan untuk membayar zakat.

Allah SWT telah menyatakan di dalam al-Quran pada surah Ali Imran ayat 14: Dihiaskan (dan dijadikan indah) kepada manusia, kesukaan kepada benda-benda yang diingini nafsu, iaitu perempuan-perempuan dan anak-pinak; harta benda yang banyak bertimbun-timbun, daripada emas dan perak.
Sesungguhnya, emas dan segala macam perhiasan dunia hari ini, bukan sahaja disukai oleh wanita; bahkan sudah ramai lelaki Islam yang memakainya. Sedangkan Nabi Muhammad SAW telah memberikan ingatan: "Diharamkan memakai sutera dan emas ke atas lelaki (daripada kalangan) umatku dan dihalalkan kepada wanita-wanita mereka." (riwayat at-Termizi)

Bahkan, jika ditinjau pada kebiasaan manusia pun, sesungguhnya kedudukan wanita dan perhiasan amatlah rapat. Allah SWT memang menjadikan wanita itu indah dan sesuailah jika wanita menggemari keindahan dan mengenakan perhiasan pada dirinya. Bahkan, dengan barangan perhiasan yang dipakai oleh wanita, akan bertambah indahlah diri dan dapat melunakkan hati para suami hingga lahirlah mawaddah wa rahmah di antara mereka.

Nabi Muhammad SAW menyatakan: "Tiga perkara yang disukai olehku daripada dunia, iaitu wanita yang halal, wangi-wangian dan rasa seronok dalam solat." (riwayat Ahmad, Hakim dan Baihaqi)

Merujuk kepada soalan puan di atas, iaitu apakah yang dimaksudkan dengan barangan kemas atau perhiasan? Dalam hal ini, ittifaq dalam kalangan fuqaha bahawa yang dimaksudkan dengan barangan perhiasan yang dikenakan zakat itu adalah segala item yang disandarkan kepada emas dan perak. Ia bermakna, semua barangan yang diperbuat daripada emas dan perak, sama ada dipakaikan di badan ataupun dijadikan perhiasan di rumah atau bangunan, ia adalah emas perhiasan.

Namun begitu, Rasulullah SAW telah menegah umat Islam daripada menggunakan perhiasan rumah daripada emas dan perak, seperti mana sabda Nabi SAW yang dilaporkan Huzaifah bin Yaman r.a: Janganlah kalian minum dalam bekas (yang diperbuat) daripada emas dan perak, dan janganlah mengenakan pakaian sutera, kerana pakaian sutera itu untuk mereka (orang-orang kafir) di dunia dan untuk kalian di akhirat kelak. (riwayat Muslim)

Walau bagaimanapun, fuqaha telah bersilang pendapat sama ada emas yang dijadikan perhiasan ini wajib dikeluarkan zakat ke atasnya atau tidak. Namun begitu, pandangan yang sederhana dan diterima pakai di negara ini ialah, semua emas perhiasan adalah tunduk kepada zakat seandainya ia berlebihan daripada uruf. Manakala, emas yang tidak dijadikan perhiasan (simpanan), wajib ke atasnya apabila beratnya mencapai nisab, yakni 85 gram.

Ini jelas, apabila emas perhiasan itu sudah berlebihan daripada uruf maka ia bermakna, emas yang dipakai itu sudah melebihi daripada kebiasaan dan termasuklah ia dalam kondisi bermewah-mewahan, maka wajarlah ia dizakatkan.

Manakala, segala perhiasan yang dihasilkan daripada bahan selain emas dan perak, seperti batu permata, intan, mutiara dan sebagainya, maka telah ittifaq para ulama fiqh bahawa tidaklah dikenakan apa-apa zakat ke atasnya. Menurut Dr. Abdul Karim Zaidan di dalam kitabnya: "Tidak terjadi perselisihan pendapat di antara para ulama mengenai perhiasan wanita selain emas dan perak, bahawa barang-barang tersebut tidak perlu dikeluarkan zakat; kecuali apabila untuk diperdagangkan." (Ensaiklopedia Fiqh Wanita, hal. 38).

Ini bermakna, seandainya barangan perhiasan daripada selain emas dan perak itu dijana hingga mendatangkan pendapatan atau penghasilan (seperti disewakan atau dijual), maka pada saat itulah ia menjadi takluk atau tunduk kepada zakat, iaitu dikenakan ke atas hasil yang dijana daripadanya sebagai zakat pendapatan atau zakat perniagaan.

Pandangan ini turut dilontar oleh seorang ulama Hambali, iaitu Abu Wafa' Ibn Akil seperti mana yang telah diterakan di dalam kitab Ibnu Qayyim dan kemudiannya dicuplik oleh al-Qaradawi di dalam kitabnya Hukum Zakat (hal. 442).

Suka juga ditambahkan di sini, biarpun Islam mengharamkan para lelaki Muslim memakai emas sebagai perhiasan; namun jika mereka masih memakainya sebagai perhiasan diri, hakikatnya ia masih wajib dizakatkan. Hukum memakainya adalah haram; namun kewajipannya tetap tidak terlepas dan masih juga wajib dizakatkan jika ia melebihi uruf.

Kesimpulannya, harta-harta perhiasan seperti emas dan perak adalah wajib dizakatkan, manakala perhiasan daripada batu-batu permata, intan, mutiara, ambar (sejenis batu dari perut ikan) dan sebagainya tidaklah wajib dizakatkan, kecuali ia dijadikan sewaan atau jualan hingga mendatangkan hasil. Wallahua'lam.

Zakat ke atas haiwan ternakan




Zakat ke atas haiwan ternakan


Haiwan yang dikategorikan sebagai haiwan liar asalnya, walaupun ia sudah diternak secara komersial, tidak wajib dizakatkan kecuali dikenakan zakat ke atas hasil daripadanya. - Gambar hiasan



SAYA ada kemusykilan mengenai zakat ternakan. Adakah semua jenis ternakan, termasuklah seladang dan rusa wajib dizakatkan? Keduanya, saya mempunyai sebuah ladang menternak kambing yang dikongsi dengan seorang teman. Jika menurut kiraan saya, kambing yang kami miliki, masing-masing tidak cukup nisabnya. Iaitu, saya memiliki 30 ekor dan teman saya pula 25 ekor. Adakah kami tidak perlu mengeluarkan zakat kambing berkenaan?

Jawapan
Alhamdulillah jika tuan mempunyai hasrat dan niat mengeluarkan zakat penternakan. Sesungguhnya, menternak kambing memang merupakan satu pekerjaan yang mulia. Ia adalah warisan para nabi. Nabi Musa a.s dan Nabi Muhammad SAW adalah orang yang pernah bekerja menternak haiwan ternakan ini, khususnya kambing.

Dalam bab zakat ternakan, Allah SWT hanya mewajibkan umat Islam untuk mengeluarkan zakat ke atas haiwan tertentu sahaja. Apa yang dimaksudkan sebagai haiwan ternakan tertentu ini ialah haiwan yang berkaki empat dan sudah biasa diternak oleh manusia sejak zaman dahulu. Dalam bahasa Arab ia diistilahkan sebagai al-an'am. (rujuk Yaasin: 71-73)

Maka, dapatlah kita fahami bahawa tidak semua haiwan yang diternak oleh manusia itu wajib dizakatkan. Hanya haiwan yang berkaki empat sahaja iaitu kambing, domba, biri-biri, kibas, kerbau, lembu dan unta yang wajib zakat. Manakala, ternakan lain seperti ayam, itik dan burung unta tidaklah wajib. Apatah lagi jika menternak burung, arnab dan kucing.

Manakala rusa, seladang mahupun apa sahaja haiwan yang memang dikategorikan sebagai haiwan liar asalnya, walaupun ia sudah diternak secara komersial, ia tidaklah wajib dizakatkan sebagai zakat penternakan. Haiwan seperti ini, hendaklah dikenakan zakat ke atas hasil daripadanya, iaitu sama ada zakat pendapatan mahu pun zakat perniagaan.

Jika kita merujuk kepada pandangan fuqaha, mereka turut membahaskan berkenaan nisab ke atas pemilikan harta yang dimiliki secara personal dan secara bersama atau perkongsian ini.

Sebahagian fuqaha, misalnya menurut pandangan Mazhab Syafie, al-Hassan al-Basri dan al-Sya'bi, mereka menukilkan: "Sesungguhnya harta kekayaan yang dimiliki secara bersama, adalah sama tarafnya dengan harta kekayaan yang dimiliki oleh seorang (personal). Jika harta kekayaan yang dimiliki secara bersama itu mencapai nisabnya, maka ia wajib dikeluarkan zakatnya, walaupun setiap orang yang bergabung itu memiliki kurang daripada ukuran nisab. Ketentuan ini berlaku untuk semua jenis harta kekayaan." (rujuk Ensaiklopedia Fiqh Wanita, Dr. Abdul Karim Zaidan, hal. 23).

Mazhab Hambali juga mempunyai pandangan yang sama ke atas harta ternakan ini, iaitu: "Pemilikan bersama dalam binatang ternakan adalah dihukumkan sebagai harta kekayaan yang dimiliki oleh satu orang (tidak boleh dipisah-pisahkan) dan mesti dikeluarkan zakatnya apabila ia telah mencapai tahap ukuran nisab."

Oleh itu, hendaklah saudara mengeluarkan zakat ternakan tersebut dengan segera. Ambillah pesanan daripada hadis Nabi Muhammad SAW: Apabila seseorang memiliki unta, sapi (lembu) atau kambing (termasuklah biri-biri), (lalu) tidak menunaikan haknya (zakat), maka pada hari kiamat nanti ia (akan datang kepada tuannya dengan) kelihatan lebih besar dan gemuk daripada dirinya yang biasa. Ternakannya itu akan memijak-mijaknya dengan tapak kaki mereka dan menanduknya dengan tanduk-tanduknya. Setelah selesai gerombolan ternakan terakhir memijaknya, maka (gerombolan ternakan) yang pertama akan mengulanginya pula. Itulah hukuman yang (bakal) dia peroleh. (riwayat Bukhari)

Kesimpulannya, keluarkan zakat ke atas haiwan ternakan tersebut dengan segera. Saya berdoa agar usaha tuan dipermudahkan Allah SWT dan perusahaan tuan berdua mendapat keberkatan berpanjangan, di dunia dan akhirat. Wallahua'lam.

Isnin, 16 April 2012

Zikir Jahar



DZIKIR JAHAR
Menurut Nash dan Qaul Ulama
Berdzikir dengan metode jahar memiliki sandaran kuat dari Al Quran dan Hadits. Di
antaranya adalah firman Allah Ta’ala:
فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصّلَةَ فَاذْكُرُوا الَ قِيَامًا وّقُعُوْدًا وّعَلىَ جُنُوْبِكُمْ
“Maka jika engkau telah menunaikan shalat, berdzikirlah kepada Allah dengan keadaan
berdiri, duduk dan berbaring”. (an-Nisaa’: 103)
Diriwayatkan dalam Shahih Muslim:
عَنِ ابْنِ عَبّاسٍ أََخْبَرَه أَنّ رَفْعَ الصّوْتِ بِالذّكْرِ حِيْنَ يَنْصَرِفُ النّاسُ مِنَ الْمَكْتُوْبَةِ كَانَ عَلىَ
عَهْدِ النّبِيّ ص.م أنّهُ قَالَ قَالَ ابْنُ عَبّاسٍ كُنْتُ أَعْلَمُ إَذَا انْصَرَفُوْا بِذَالِكَ إِذَا سَمِعْتُهُ
Dari Ibnu ’Abbas Ra. berkata: "bahwasanya dzikir dengan suara keras setelah selesai
shalat wajib adalah biasa pada masa Rasulullah SAW". Kata Ibnu ’Abbas, “Aku segera
tahu bahwa mereka telah selesai shalat, kalau suara mereka membaca dzikir telah
kedengaran”.[Lihat Shahih Muslim I, Bab Shalat. Hal senada juga diungkapkan oleh al Bukhari
(lihat: Shahih al Bukhari hal: 109, Juz I)]
عَنْ ابْنِ أَبِيْ هُرَيْرَةَ ر.ض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ الِ ص.م: يَقُوْلُ الُ تَعَالَ: أَنا عِنْدَ ظَنّ عَبْدِيْ
بِيْ, وَأَنا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِيْ, فَإِنْ ذَكَرَنِيْ فِيْ نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِيْ نَفْسِيْ وَإِنْ ذَكَرَنِيْ فِيْ مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ
فِيْ مَلَإٍ خَيْرٌ مّنْهُمْ {رواه البخاري}
“Dari Abu Hurairah Ra. bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: Allah berfirman: ‘Aku
bergantung kepada prasangka hambaKu kepada-Ku, dan Aku menyertainya ketika mereka
berdzikir. Apabila mereka menyebut-Ku di dalam dirinya, maka Aku sebut dirinya di
dalam diri-Ku. Apabila mereka menyebut-Ku di tempat yang ramai, maka Aku sebut
mereka di tempat yang lebih ramai dari itu”.
As-Sayid Muhammad bin Alwi al-Maliki al-Hasani Rhm. mengatakan bahwa hadits ini
menunjukkan bahwa menyebut di tempat keramaian itu (fil-Mala-i) tidak lain adalah
berdzikir jahar (dengan suara keras), agar seluruh orang-orang yang ada di sekitarnya
mendengar apa yang mereka sebutkan (dari dzikirnya itu). [Abwabul Faraj, Pen. Al
Haramain, tth., hal. 366]
Habib Ali bin Hasan al Aththas dalam Kitabnya Al Qirthas juga mengungkapkan hadits di
atas untuk mendukung dalil dzikir dengan jahar. Selanjutnya beliau mengatakan bahwa
tanda syukur adalah memperjelas sesuatu dan tanda kufur adalah menyembunyikannya.
Dan itulah yang dimaksud dengan ‘dzikrullah’ dengan mengeraskan suaranya dan
menyebarluaskannya. [Terj. Al-Qirthas, Darul Ulum Press, 2003, hal. 190]
عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ ر.ض قَالَ: قَالَ ابْنُ اْلَدْرَعِ : اِنْطَلَقْتُ مَعَ النّبِيّ ص.م لَيْلَةً فَمَرّ بِرَجُلٍ فِى
الْمَسْجِدِ يَرْفَعُ صَوْتَه, قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ الِ عَسى أَنْ يّكُوْنَ هذَا مُرَائِيّا؟ قَالَ: (لَ وَلكِنّه أَوَاهٌ
{رواه البيهقي}
“Dari Zaid bin Aslam Ra. bahwasanya Ibnu Adra’ berkata: Saya telah berjalan bersama
Nabi SAW di suatu malam, maka Beliau melewati seorang laki-laki yang sedang berdzikir
dengan mengangkat suara (suara yang keras) di dalam masjid. Aku bertanya kepada beliau
SAW: ‘Wahai Rasulullah, barangkali orang ini (yang sedang berdzikir dengan suara keras)
itu sedang pamer?’ Beliau bersabda: ‘Tidak, akan tetapi ia sedang merintih (mengeluh)‘.
Para pendidik ruhani masa lalu menyatakan dengan berbagai landasan eksperimennya
bahwa “Orang-orang yang mubtadi (pemula) dan bagi orang-orang yang menuntut
terbukanya pintu hati adalah wajib berjahar dalam dzikirnya”. Syaikh Abdul Wahhab asy
Sya’rani Rahimahullahu Ta’ala berkata: “Sesungguhnya sebagian besar Ulama Ahli
Tasawuf telah mufakat bahwasanya wajib atas murid itu berdzikir dengan jahar, yakni
dengan menyaringkan akan suaranya dan didalamkannya. Dan berdzikir dengan sirri dan
perlahan-lahan itu tidak akan memberi faidah kepadanya untuk menaikkan kepada
martabat yang tinggi” [Lihat Siyarus Salikin, Abdush Shomad Palembani, III: 191]
Habib Abdullah bin Alwi al Haddad Rhm. mengungkapkan dalam dalam suatu kitabnya:
قَالَ عَلَيْهِ الصّلَةُ وَالسّلَمُ خَيْرُ الذِّكْرِ الْخَفِيّ وَخَيْرُ الرّزْقِ مَا يَكْفِيْ, وَإِنْ جَهَرْتَ بِالذّكْرِ مَعَ
اْلِخْلَصِ لِ فِيْهِ وَلَمْ تُشَوّشْ بِسَبَبِ ذلِكَ عَلى مُصَلّ وَلَ قَارِئٍ بِحَيْثُ تُخَلّطْ عَلَيْهِ صَلَتُه
وَقِرَآئَتُه فَلَ بَأْسَ بِالْجَهْرِ فَلَ مُنِعَ مِنْهُ بَلْ هُوَ مُسْتَحَبٌ وَمَحْبُوْبٌ وَإِنْ كَانَ ذلِكَ مَعَ جَمَاعَةٍ.
اجْتَمَعُوا ذّكْرَ الِ تَعَال عَلى وِفْقِ مَا ذَكَرْنَاُه مِنَ اْلِخْلَصِ وَعَدَمِ التّسْوِيْشِ عَلىَ الْمُصَلّيْنَ
وَالتّالِيْنَ وَنَحْوِهِمْ فَذلِكَ مَنْدُوْبٌ إِلَيْهِ وَمُرَغَبٌ فِيْهِ
“Telah bersabda Nabi SAW: “Sebaik-baik dzikir adalah dzikir khofi, dan sebaik-baik rizki
adalah yang cukup”. Andaikata kamu menjalankan dzikir dengan ikhlas karena Allah di
dalam dzikirnya dan tidak mewaswaskan (mengganggu) orang lain yang sedang shalat dan
tidak membuat orang yang sedang membaca Al-Quran menjadi kacau bacaannya karena
dzikir itu, maka tidaklah apa-apa berdzikir jahar. Hal yang demikian itu tidak dilarang
bahkan disunatkan, dan dicintai walaupun keadaan dzikir itu berjama’ah. Mereka
berkumpul untuk berdzikir kepada Allah sesuai dengan apa yang telah kami terangkan
dengan ikhlas dan tidak mewaswaskan orang-orang yang sedang shalat dan membaca Al-
Quran, dan sebagainya, maka dzikir seperti itu disunatkan dan sangat dianjurkan. [An-
Nasha-ihud Diniyyah, hal 50]
وَقَدِ اخْتَارَ جَمَاعَةٌ مِنْ أَهْلِ الطّرِيْقَةِ التّصَوّفِ الْجَهْرَ بِالذّكْرِ وَاْلِجْتِمَاعَ بِذَالِكَ وَلَهُمْ فِيْ
ذلِكَ طَرَائِقُ مَعْرُوْفَةٌ
“Para jama’ah dari kalangan Thariqat Shufi mengangkat suara keras ketika berdzikir, dan
mereka berjama’ah ketika berdzikir, hal yang demikian itu merupakan metode thariqat
yang sudah umum/dikenal”. [An-Nasha-ihud Diniyyah, hal 51]
Berdzikir jahar yang dimaksud adalah berdzikir dengan suara keras yang sempurna,
sehingga bagian atas kepala hingga kaki mereka itu bergerak. Dan seutama-utama dzikir
jahar adalah berdiri, dengan menghentak, bergerak teratur dari ujung rambut hingga ujung
kaki, hingga seluruh jasadnya turut merasakan Keagungan dan Kebesaran Allah ‘Azza wa
Jalla. (Al-Minahus Saniyyah, Abd. Wahab as Sya’rani)
Dalam kitab Taswiful Asma’, hal. 33 diterangkan:
وَأَمّا اْلِهْتِزَازُ فِيْ حَالَةِ الذّكْرِ فَمَنْدُوْبٌ إِلَيْهِ لِمَا رَوَى الْحَافِظُ أَبُوْ نُعَيْمِ بِسَنَدِه عَنْ عَلِيّ كَرّمَ
الُ وَجْهَهُ أَنّه وَصَفَ الصّحَابَةَ يَوْمًا فَقَالَ كَانُوْا إِذَا ذَكَرُوْا الَ مَادّوْا كَمَا يَمُدّ الشّجَرُ فِيْ
يَوْمِ الشّدِيْدِ الرّيحِ وَجَرَتْ دُمُوْعُهُمْ عَلى ثِيَابِهِمْ, قَالَ شَيْخُنَا الْعَارِفُ جَمَالُ الدّيْن الْبُسْطَامِيْ
قَدّسَ الُ تَعَال رُوْحَه وَهذَا صَرِيْحٌ فِيْ أَنّ الصّحَابَةَ رَضِيَ الُ تَعَال عَنْهُمْ كَانُوْا يَتَحَرّكُوْنَ فِى
الذّكْرِ حَرْكَةً شَدِيْدَةً يَمِيْنًا وَشِمَالً لَنه شُبّهَ حَرْكَتُهُمْ بِحَرْكَةِ الشّجَرِ يَوْمَ الشّدِيْدِ الرّيْحِ
“Adapun bergoyang-goyang di kala berdzikir itu dianjurkan, karena telah meriwayatkan Al
Hafizh Abu Nu’aim dengan sanadnya dari Sayidina Ali (semoga Allah memuliakan
wajahnya) bahwa sesungguhnya beliau pada suatu hari telah mensifati keadaan sahabat
dengan katanya: ‘Adalah mereka (para sahabat) apabila berdzikir kepada Allah bergoyanggoyang
seperti bergoyangnya kayu ketika datangnya angin kencang, dan mengalir air
matanya pada pakaiannya’. Telah berkata Syekh kita yang ‘Arif, Jamaluddin al Bushthami
(semoga Allah Ta’ala menyucikan ruhnya): ‘Ini merupakan perkataan yang jelas,
sesungguhnya sahabat-sahabat (semoga Allah meridhai mereka) bergoyang-goyang ketika
berdzikir dengan gerakan yang keras ke kanan dan ke kiri. Sesungguhnya berdzikir seperti
itu menyerupai bergeraknya kayu pada waktu datangnya angin kencang”.
Keunggulan dzikir jahar itu adalah seperti yang dikatakan seorang Ulama Ahli Tasawuf:
“Apabila seorang murid berdzikir kepada Tuhannya ‘Azza wa Jalla dengan sangat kuat dan
semangat yang tinggi, niscaya dilipat baginya maqam-maqam thariqah dengan sangat
cepat tanpa halangan. Maka dalam waktu sesaat (relatif singkat) ia dapat menempuh jalan
(derajat) yang tidak bisa ditempuh oleh orang lain selama waktu sebulan atau lebih”.
Syekhul Hadits, Maulana Zakaria Khandalawi mengatakan, ‘Sebahagian orang
mengatakan bahwa dzikir jahar (dzikir dengan mengeraskkan suara) adalah termasuk
bid’ah dan perbuatan yang tiada dibolehkan). Pendapat ini adalah menunjukkan bahwa
pengetahuan mereka itu di dalam hadits adalah sangat tipis. Maulana Abdul Hayy
Rahimahullahu Ta’ala mengarang sebuah risalah yang berjudul ‘Shabahatul Fikri’. Beliau
menukil di dalam risalahnya itu sebanyak 50 hadits yang menjadi dasar bahwa dzikir jahar
itu disunnahkan’. [Fadhilat zikir, Muh Zakariya Khandalawi. Terj. HM. Yaqoob Ansari, Penang
Malaysia, hal 72]
Dan dzikir jahar itu dianjurkan dengan berjama’ah, dikarenakan dzikir dalam berjama’ah
itu lebih banyak membekas di hati dan berpengaruh dalam mengangkat hijab.
Rasulullah SAW bersabda: “Tiadalah duduk suatu kaum berdzikir (menyebut nama Allah
‘Azza wa Jalla) melainkan mereka dinaungi oleh para malaikat, dipenuhi oleh rahmat
Allah dan mereka diberikan ketenangan hati, juga Allah menyebut-nyebut nama mereka itu
dihadapan para malaikat yang ada di sisi-Nya”. [At Targhib wat Tarhib, II: 404]
Imam al Ghazali Rahimahullahu Ta’ala telah mengumpamakan dzikir seorang diri dengan
dzikir berjama’ah itu bagaikan adzan orang sendiri dengan adzan berjama’ah. Maka
sebagaimana suara-suara muadzin secara kelompok lebih bergema di udara daripada suara
seorang muadzin, begitu pula dzikir berjama’ah lebih berpengaruh pada hati seseorang
dalam mengangkat hijab, karena Allah Ta’ala mengumpamakan hati dengan batu. Telah
diketahui bahwa batu tidak bisa pecah kecuali dengan kekuatan sekelompok orang yang
lebih hebat daripada kekuatan satu orang”. [Al-Minahus Saniyyah, Abd. Wahab as Sya’rani]
Sayyid Abdurrahman bin Muhammad bin Husein bin Umar Rhm. mengatakan:
اَلذّكْرُ كَالْقِرَاءَةِ مَطْلُوْبٌ بِصَرِيْحِ اْلياتِ وَالرّوَايَاتِ وَالجَهْرُ بِه حَيْثُ لَمْ يَخَفْ رِيَاءً
وَلَمْ يُشَوّشْ عَلى نَحْوِ مُصَلّ أَفْضَلُ لَنّ الْعَمَلَ فِيْهِ أَكْثَرُ وَتتَعَاوَنُ فَضِيْلَتُه لِلسّمَاعِ وَِلَنّه
يُوْقِظُ قَلْبَ الْقَارِئِ وَ يَجْمَعُ هَمّه لِلْفِكْرِ وَيُصَرّفُ سَمْعَه إِلَيْهِ وَيطْرُدُ النّوْمَ وَيزِيدُ فِى
( النّشَاطِ (بغية الشترشدين: ٤٨
“Berdzikir itu laksana orang yang membaca Al-Quran, yang diperlukan kejelasan ayat dan
riwayatnya, dan juga diperlukan keras suaranya, apabila tidak khawatir riya’ dan tidak
mengganggu kepada orang shalat. Berdzikir seperti itu lebih afdhal, karena sesungguhnya
dzikir yang banyak itu akan melimpah ruah pahalanya kepada yang mendengarnya. Dan
manfaat berdzikir jahar itu akan mengetuk hati penyebutnya, menciptakan konsentrasi
(fokus) pikirannya terhadap dzikirnya, mengalihkan pendengarannya pada dzikir,
menghilangkan rasa kantuk, serta menambah semangat (bersungguh-sungguh)”.
[Bughyatul Mustarsyidin, hal. 48]
Dalam suatu hadits disebutkan:
لَ أَحَدَ أَحَبّ إِلَيْهِ الْمَدْحُ مِنَ الِ وَالْمَدْحُ لَ يَكُوْنَ إِلّ جَهْرًا
“Tidak ada suatu pujian seseorang yang dicintai Allah, kecuali pujian yang diucapkan
dengan suara jelas”.
Seorang penyair mengatakan:
وَمَنْ مَدَحَ الْحَبِيْبَ لَ يَتَلَجْلَجُ جَهَرْتُ بِمَدْحِيْ فِيْهِ لَ مُتَلَجْلِجًا
Dengan suara keras aku telah memujinya tanpa tergagap-gagap,
Barang siapa yang memuji kekasihnya tentu tidak tergagap-gagap.
[Terj. Al-Qirthas, Darul Ulum Press, 2003, hal. 191]
Diambil dari Buku: Dzikir Qurani, Mengingat Allah sesuai Fitrah Manusia, Yayasan Al-
Idrisiyyah, Indonesia.

Ahad, 15 April 2012

Azan 'sedarkan' Samirah




Azan 'sedarkan' Samirah

BERMULA dengan mendengar bisikan azan dan suara merdu orang mengaji ketika sedang nyenyak tidur sekitar penghujung 2010, merupakan detik awal yang membawa kepada penghijrahan akidah Geethadewi atau nama Islamnya, Nur Samirah Abdullah.

Siapa sangka walaupun dengan perasaan yang bercampur baur itu telah membawa wanita berusia 36 tahun ini melafazkan kalimah syahadah di hadapan pegawai dakwah Pertubuhan Kebajikan Islam Malaysia (Perkim) pada 15 Mac tahun lalu.

Tanpa mengendahkan cabaran yang bakal ditempuh, wanita berasal dari Gopeng, Perak itu akur dengan kehendak hati yang ingin memiliki Islam.

"Mulanya saya menyangkakan bahawa azan itu adalah azan Subuh dari surau berhampiran. Namun apabila terjaga saya dapati baru pukul 4 pagi.

"Terus bermacam-macam soalan muncul di fikiran dan saya mula berteka-teki serta mencari punca suara itu. Ini kerana ia menerbitkan satu perasaan yang sungguh indah dalam hidup saya," kongsi Nur Samirah ketika ditemui Mega, Utusan Malaysia, baru-baru ini.

Menyambung bicara, wanita yang mesra disapa Samirah itu berkata, bermula detik itu dia mula mencari dan mendekati Islam melalui rakan-rakan sekerjanya.

Malah jelasnya, apabila kisah itu diajukan kepada rakan-rakan yang rapat dengannya, ada yang menganggap ia sebagai petanda hidayah Allah SWT.

Sejak itu, hatinya semakin membuak-buak untuk mendalami Islam, sehingga dia mula bertanya bagaimana caranya.

Bagaimanapun, oleh kerana status diri yang masih bergelar isteri orang, keinginannya sedikit terbatas. Lebih-lebih lagi, apabila memikirkan tentangan yang bakal dihadapi daripada suami yang telah 10 tahun dikahwininya.

Namun demi mencapai seruan yang telah diberi kepadanya, Samirah tekad mengejar cahaya yang diberikan Allah itu dengan meluahkan hasrat hati untuk bergelar Muslim kepada suaminya.

"Sebaik mendengar pengakuan saya itu, suami tidak dapat menerima dan hubungan kami mula goyah.

"Malah suami juga mengancam yang berbaur ugutan kepada saya sekiranya tetap berkeras mahu memeluk Islam," katanya yang turut disusuli linangan air mata.

Namun bisikan hati yang semakin kuat memberontak untuk menjadi seorang Muslim membuatkan Samirah tekad pergi ke Perkim bersama seorang rakannya.

"Alhamdulillah, saya sangat bersyukur kerana diberi kesempatan untuk bergelar Muslim.

"Biarpun hati saya tenang selepas melafazkan dua kalimah syahadah, perasaan takut tetap ada, apa lagi bila memikirkan reaksi suami.

"Sepanjang berada di dalam bas untuk pulang ke rumah, saya tidak henti-henti menangis dan berdoa agar Allah mempermudahkan," ujarnya.

Namun kuasa Allah tiada yang dapat menghalang. Sebaik turun bas, Samirah memberitahu, suaminya tidak dapat mengenali dirinya kerana penampilan dirinya yang jauh berbeza. Dia sudah bertudung.

Katanya, sepanjang 20 minit itu, kelibatnya tidak disedari sehinggalah dia menepuk bahu dan menegur suaminya.

"Saya memberanikan diri lalu menepuk bahu dan menegur suami. Dia terpaku dan tergamam.

"Selepas itu, kami pulang. Di rumah, suami seorang yang keras tiba-tiba menangis di hadapan saya.

"Saya bersyukur kepada Allah kerana memakbulkan doa saya dengan melembutkan hati suami. Dia menerima keputusan saya, cuma dia bertanya mengapa saya sanggup tinggalkannya dan menukar agama."

Sebagai seorang Islam, Samirah sedar hubungan suami isteri antara dia dan suaminya tidak boleh diteruskan kerana batasan agama. Justeru, sebaik selesai tiga bulan idah, mereka berdua akhirnya berpisah.

Sambungnya, biarpun tidak lagi bergelar suami isteri, hubungan di antara mereka masih baik malah adakalanya bekas suaminya menghantar dan mengambilnya pulang dari kelas pengajian Islam yang diikuti di Perkim, Jalan Ipoh, Kuala Lumpur.

"Saya bersyukur kerana Allah melembutkan hati bekas suami dan hubungan kami tetap baik, biarpun berlainan agama," ujarnya.

Selasa, 10 April 2012

Himpunan Kekeluargaan Rumpun Nusantara (13-15 April 2012)




Assalamu'alaikum,

Hamba tolong promosi iklan yang diusahakan oleh Kamarul Izzad Alkajangi di Facebook.  Semoga sesiapa yang berkelapangan dapat hadir.


Ahad, 8 April 2012

Penyakit, Makhluk Halus dan Menghadapinya

Assalamu'alaikum,

Segala puji dan kesyukuran ke hadrat Allah Taala,  hamba baru baik dari demam dan sakit-sakit. Tiga minggu lepas, tiga hari kena demam dan dua hari sakit-sakit badan. Dekat seminggu tak buka internet dan baca emel.  Sebelum ini hamba pernah menulis tentang Sakit itu satu rahmat.  Memanglah pada lumrahnya, tak ada manusia yang suka bila sakit. Cuma pada orang hakikat, sakit itu satu kebaikan pada hakikinya. Kerana yang memberi sakit itu DIA dan yang menyembuhkan sakit itu juga dari DIA, yang ditangguhkan penyembuhan itu juga dari DIA, dipercepatkan penyembuhan itu juga dari DIA. Semuanya dari DIA, oleh DIA, untuk DIA. Dengan kita sakit, kita akan lebih menginsafi kesalahan dan kesilapan kita. Dengan kita sakit, ada kekotoran zahir yang ingin dikeluarkan dari badan.  Dengan kita sakit, kita lebih banyak belajar sifat sabar dalam menghadapi sesuatu. Dengan kita sakit, kita lebih banyak 'mengingati DIA'. Dengan kita sakit, ada kemungkinan kifarah itu menghapuskan dosa-dosa kita yang banyak itu. Dengan kita sakit, kita tersedar kita dah tersilap kerana memakan/mengambil sesuatu makanan secara berlebihan. Dengan kita sakit, kita tahu pertahanan diri dan perlindungan diri yang kita amalkan dari gangguan makhluk-makhluk halus masih ada kelemahannya, masih ada lompangnya, masih ada ruang untuk makhluk-makhluk ini 'masuk dan bertapak'. Tidakkah sakit itu baik untuk kita? Adakah DIA zalim kerana memberi kita sakit? Tidak sama sekali!!! Kita sakit kerana perbuatan kita sendiri, kerana kelakuan kita sendiri, kerana tabiat kita sendiri. Kita sakit kerana sakit itu baik bagi kita. 

Pada 7 Januari 2012, hamba sekeluarga berkhemah di Pulau Besar.  Kemudian pada 21 Januari 2012, hamba sekeluarga berkelah di Sagil, Gunung Ledang.  Semasa balik dari Pulau Besar, isteri hamba dan 3 orang anak hamba 'sakit perut'. Keesokannya, tak ke sekolah anak-anak hamba kerana demam. Begitu juga selepas balik dari Gunung Ledang, sebahagian besar anak hamba demam dan sakit-sakit badan. Sehari juga tidak ke sekolah.

Sekadar berkongsi sedikit kaedah hamba menangani anak-anak yang sakit. Cuma hamba nak ingatkan yang hamba ini bukan perawat Islam. Apa yang hamba lakukan bila anak-anak sakit? Apa lagi, bagi makan ubatlah!!! Maksudnya hamba pun melihat anak-anak sakit dari perspektif syariat, yakni kalau sakit, beri ubatnya, ubat moden, yang ada kat klinik-klinik tu.  Dah beri ubat moden tak banyak kesan, kena carilah puncanya. Punca penyakit sekurang2nya ada tiga. Yang pertama, punca zahir, macam penyakit kencing manis sebab banyak ambil gula, macam demam denggi kerana nyamuk aedes... itu perspektif orang awam. Jangan sama sekali tinggalkan perspektif ini. Kalau anda  baca kisah Sunan Ampel,  beliau dijemput untuk berikhtiar menyembuhkan penyakit yang melanda satu kawasan kampung/pemukiman oleh Raja di kawasan itu. Antara perkara pertama yang Sunan Ampel lakukan adalah berdakwah dengan menghindari amalan2 penduduk kampung yang tidak mementingkan kebersihan dan mengajak penduduk kawasan itu menjaga kebersihan. Dengan menjaga kebersihan, maka penyakit yang disumberkan dari kekotoran akan berkurangan. Kalau zaman moden ini, macam  gotong-royong membersihkan parit-longkang di kawasan taman untuk menghindari nyamuk aedes membiak. Kebersihan itu sebahagian daripada agama, maka ia bermaksud pada syariat dan juga pada hakikat.

Yang kedua, penyakit berpunca daripada makhluk-makhluk halus, itu bahasa orang ramai. Bahasa hamba, makhluk-makhluk batil. Makhluk Allah ada di jalan yang benar seperti malaikat yang sentiasa mentaati perintah Allah dan para Rasul dan Nabi. Ada makhluk Allah yang di jalan yang batil macam syaitan, iblis dan macam-macam jenis jin. Jin pula bukan semua kafir, ada yang Islam, tapi tak payahlah nak berkawan dengan jin-jin Islam ini. Ada juga makhluk Allah yang dipanggil dewa-dewi. Dewa-dewi pula ada yang Islam dan ada yang bukan Islam. Dewa-dewi tak sama dengan jin-jin. Dewa-dewi 'bersih', diangkat dari tempat yang rendah, ditinggikan, didewa-dewakan macam Tuhan. kalau dari segi 'power' dewa-dewi ni 'lebih powernya' drp jin-jin. Dewa-dewi adalah ujian kepada ahli tariqat, mereka di jalan ketuhanan. Insya-Allah hamba akan sembang dengan lebih lanjut bab dewa-dewi ni kemudiannya. Banyak mereka di jalan tasawuf 'terkeliru' dengan dewa-dewi ni. Sebab itu perlu berguru dengan guru mursyid yang murabbi. Sepertimana jin, tak perlu nak berkawan dengan dewa-dewi ni. Bab-bab ni Tok Belagak yang arif, hamba memang tahu sikit2 aja. Penyakit gangguan makhluk halus seperti kerasukan, meracau dan disantau dikaitkan dengan gangguan makhluk-makhluk halus. Jadi kalau kena gangguan makhluk halus ini, antara caranya adalah berkunjung ke Darul Saka yang diasaskan Tok Belagak atau yang popularnya Darul Syifa. Selain Tok Belagak, boleh tengok senarai blog rawatan Islam di sebelah kanan blog hamba. Kalau ada yang tak betul, sila beritahu hamba, hamba boleh 'buang' dari senarai itu. Kalau boleh rawat  diri sendiri dan keluarga, rawatilah. Tetapi bukan penyakit sebegitu saja yang boleh disebabkan oleh jin, syaitan, iblis, dewa-dewi ni. Penyakit moden juga 'boleh disebabkan' makhluk-makhluk ni. Kena kaji hadis Nabi SAW bagaimana makhluk-makhluk ini boleh 'duduk' di dalam peredaran darah. Dengan duduk dalam peredaran darah, mereka 'diizinkan' mengganggu perjalanan darah dalam tubuh-badan, mengganggu keseimbangan api, angin, air dan tanah dalam diri kita. Kalau kita ada kencing manis peringkat rendah, 'gangguan' mereka boleh menyebabkan kencing manis kita jadi kritikal dan begitulah seterusnya. Bagaimana mengatasi gangguan mereka ini? Dengan mendekatkan diri dengan Allah, banyakkan berzikir, banyakkan amalan2 sunat. Seluruh anggota tubuh badan pada diri kita seharusnya dihidupkan dengan mengingati Allah. Dalam bab ini, merujuklah kepada guru mursyid yang murabbi.

Yang ketiga, kena penyakit sekian-sekian sebagai kifarah. Maka harus kita memperbanyakkan istighfar, harus kita memperbanyakkan solat sunat taubat, harus kita mendirikan solat hajat khusus mohon keampunan dari Allah Taala atas segala kesalahan dan dosa kita kepada Allah Taala, sama ada secara sedar atau tidak. Paling baik lakukanlah secara berterusan, walaupun sedikit. Nabi SAW itu sendiri tidak pernah meninggalkan istighfar walaupun baginda itu maksum dan dijamin syurga. Memang menghadapi penyakit itu berbeza-beza caranya mengikut tahap seseorang dalam menerima penyakit. Di sinilah bijaksana guru musyid itu diperlukan agar anak murid menerima penyakit dan berusaha berikhtiar itu sesuai dengan peringkatnya. Hamba ingat ziarah  hamba ke rumah Pak Senu.  Beliau sendiri mengatakan sakit yang beliau alami sekarang ini 'baik untuk beliau', begitu banyak rahmat dan hikmahnya.  Bagi sebahagian orang tasawuf, mereka tidak mendoakan disembuhkan penyakit itu, maksudnya, jika baik disisi Allah untuk penyakit itu baik, maka sembuhkanlah, jika baik disisi Allah, penyakit itu ditangguhkan untuk disembuhkan, maka mereka redha menerimanya.Mereka mencari baik disisi Allah, bukan baik disisi manusia (“Dan keredhaan Allah itu adalah yang paling besar.” [72 : At-taubah] ).


Takat itu sajalah dulu....harus banyak lagi puncanya dan kaedah menghadapinya. Allah Taala maha mengetahui sebab-musabab ditimpakan sesuatu penyakit kepada kita, anak kita, saudara mara kita. Dari itu, apabila berpenyakit, maka berubatlah mengikut kehendak syarak. Dalam masa yang sama, berusaha mengatasi penyakit mengikut kaedah kedua dan ketiga di atas. Kalau kita masih baru dalam perjalanan tasawuf, tak boleh kita nak ikut mereka mereka yang sudah lama dan  matang dalam perjalanan ini. Kalau sedang berguru dengan guru mursyid, kongsikan masalah penyakit ini dengan guru mursyid, dan segala nasihatnya itu ikut walaupun terpaksa bersabar, menahan sakit dan sebagainya.


Sayyidatina Aishah ada berkata, bahawa baginda Rasulullah ada bersabda yang bermaksud:Tidak menimpa ke atas seorang mukmin satu kecelakaan, biarpun duri, ataupun lebih daripada itu, melainkan Allah akan menggugurkan dengannya satu dosa. (Maksud hadis riwayat Al-Bukhari dan Muslim)